beritamedan’s Weblog
terdepan untuk kebenaran

Luthfi Assyaukanie PhD: Kebebasan adalah Bagian dari Demokrasi

Kebebasan itu mengandung dua ancaman, ancaman dari negara dan ancaman dari masyarakat. Seperti anda bilang, bisa saja konstitusi sangat toleran atau pro kebebasan, sementara masyarakatnya belum menghayati sehingga melakukan pelanggaran terhadap kebebasan. Sebetulnya konstitusi Indonesia memberikan kebebasan buat keyakinan dan agama apa saja untuk hidup.

Indeks kebebasan sipil di negeri-negeri Muslim tak selalu menggembirakan. Namun, menurut Freedom House, indeks kebebasan sipil di Indonesia cukup tinggi. Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal berbincang dengan Dr. Luthfi Assyaukanie membahas tema tersebut melalui Radio 68 H, pada tanggal 23 Agustus 2007.

JIL : Baru-baru ini, oleh Freedom House, Indonesia ditempatkan sebagai negara yang dianggap memiliki tingkat kebebasan sipil yang tinggi. Apa yang bisa kita maknai? Apakah kita perlu bangga atau kita justru harus bersedih dengan kenyataan itu?

LUHTFI : Kita tentu bangga. Indeks ini sudah dilakukan sejak lama. Saya ingin menyebutkan tiga jenis kategori. Ada jenis negara yang bebas (free), ada negara separoh bebas (half-free), dan ada negara yang tidak memiliki kebebasan sipil sama sekali (not-free). Waktu Orde Baru, Indonesia itu dinilai sebagai half-free. Baru tahun 2005, Freedom House memberikan nilai full-free atau free kepada Indonesia. Ini cukup membanggakan, terutama kalau kita kaitkan dengan konteks Islam. Sebab, ada pandangan umum bahwa Islam anti demokrasi, anti kebebasan. Kita bisa lihat, dari sekian negara-negara yang disurvey, hanya sedikit negara Muslim yang mendapatkan nilai full-free. Kita cukup berbangga bahwa Indonesia sejak Reformasi ada perubahan untuk menegakkan demokrasi dan kebebasan dan bukti konkretnya kita dinilai oleh dunia sebagai negara yang melaksanakan kebebasan sipil cukup tinggi.

JIL :apa yang digunakan Freedom House atau institusi-institusi sejenis yang melakukan penilain tentang tingkat kebebasan dan tidak bebas di sebuah negara? Indikator-indikatornya apa saja?

LUHTFI : Kebebasan itu sendiri konsep filosofis. Saya ingin menarik ke belakang. Pada tahun 1941 Presiden Rosevelt, Presiden Amerika Serikat itu pidato di depan Kongres dan membagi kebebasan ada empat. Kebebasan untuk berbicara, kebebasan berkeyakinan, kebebasan dari kesengsaraan atau kemelaratan, dan terakhir kebebasan dari ketakutan. Ini jenis-jenis kebebasan yang kemudian disebut empat jenis kebebasan. Oleh para filosof kemudian dikategorisasikan dua kebebasan; kebebasan positif dan kebebasan negatif. Kebebasan positif misalnya kebebasan berbicara, kebebasan berkeyakinan. Adapun kebebasan negatif, yaitu kebebasan dari kelaparan dan dari ketakutan. Ketika kita mengindeks kebebasan, kita menyertakan jenis-jenis kebebasan ini, baik kebebasan positif maupun kebebasan negatif. Misalnya kita mengukur apakah di Indonesia secara umum tingkat toleransinya terhadap orang berbeda agama tinggi atau tidak; apakah kebebasan berkeyakinan bisa dilangsungkan dengan baik atau tidak.

JIL : ada semacam persepsi bahwa negara-negara maju nampaknya punya tingkat kebebasan tinggi, sementara negara berkembang mayoritas belum bebas. Komentar anda?

LUHTFI: Kebebasan adalah bagian dari demokrasi. Kadang sebuah negara menerapkan demokrasi tetapi mengabaikan kebebasan. Berapa banyak negara yang mengklaim sebagai negara demokratis tetapi nilai kebebasannya rendah sekali. Korea Utara itu mengklaim sebagai negara demokratis tapi pada praktiknya tidak ada kebebasan di sana. Karena itu, Fareed Zakaria misalnya membedakan antara freedom dengan demokrasi. Sebagian besar negara-negara dunia ketiga mencoba menerapkan demokrasi tetapi biasanya gagal menjalankan kebebasan.

JIL : Saya teringat laporan State Departement Amerika yang setiap tahun memeringkat kebebasan di tiap negara. Di situ di analisis apakah konstitusi atau perundang-undangan di sebuah negara itu bebas atau tidak. Juga disurvey apakah masyarakatnya mendukung kebebasan atau tidak. Ada gap. Kadang konstitusi menghargai kebebasan, tapi penyikapan masyarakat justru tidak menghargai kebebasan. Seperti apa?

LUHTFI : Kebebasan itu mengandung dua ancaman, ancaman dari negara dan ancaman dari masyarakat. Seperti anda bilang, bisa saja konstitusi sangat toleran atau pro kebebasan, sementara masyarakatnya belum menghayati sehingga melakukan pelanggaran terhadap kebebasan. Sebetulnya konstitusi Indonesia memberikan kebebasan buat keyakinan dan agama apa saja untuk hidup. UUD 1945 terutama pasal 28 telah menjamin kebebasan berbicara, berserikat, berkumpul dan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Tapi ada sebagian kelompok masyarakat yang tidak menghayati itu dan kemudian melakukan kekerasan terhadap kelompok tertentu. Kita menyaksikan kekerasan yang dialami oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia misalnya.

Saya ingin menyampaikan hasil penelitian yang dilakukan Freedom Institute bekerjasama dengan LSI, JIL dan The Indonesian Institute. Ketika masyarakat Islam atau umat Islam ditanya tentang kelompok yang tidak disukai, mereka menjawab PKI, Yahudi, GAM (Gerakan Aceh Merdeka), Kristen, Jama’ah Islamiyah, Ahmadiyah. Sekitar 57,6% umat Islam tak menyukai Partai Komunis Indonesia; yang tidak suka Yahudi 8,2%; dan yang tidak suka Ahmadiyah 2,7%. Jadi, yang tidak suka terhadap Ahmadiyah itu cukup kecil. Namun, yang menarik, ketika mereka ditanya tentang kesesuaian Islam dengan demokrasi, 70% dari responden menyatakan bahwa Islam dan demokrasi sejalan.

JIL: Kadang orang berkata bahwa kebebasan sama dengan free sex. Gimana itu?

LUHTFI: Orang kadang-kadang rancu, tidak bisa membedakan antara kebebasan dan keliaran. Jadi sesuatu yang kalau dibilang bebas itu, dalam benak seseorang biasanya dianggap liar, apa saja boleh. Padahal dalam kebebasan ada aturan-aturan. Ketika berbicara tentang kebebasan itu, kita mesti berbicara konsep kebebasan universal dulu, misalnya kebebasan berbicara, kebebasan berekspresi. Nanti kebebasan berbicara itu ada turunannya lagi, berbicara di ruang apa, berbicara dalam skala apa. Jangan masuk pada masalah-masalah moral dulu.

JIL : apakah dapat disimpulkan bahwa Islam dan kebebasan sipil di Indonesia itu bermasalah atau tidak?

LUHTFI : secara umum saya kira survey atau temuan LSI dan JIL ini paralel atau sejalan dengan temuan freedom house. Secara umum ada kebebasan dan toleransi dalam masyarakat Islam Indonesia. Tapi tentu saja dengan catatan. Ada kasus-kasus tertentu atau kondisi-kondisi tertentu yang nilainya boleh dibilang bertentangan dengan semangat kebebasan. Tapi secara umum, sekali lagi, kita katakan bahwa ada semacam kompatibilitas antara Islam dan kebebasan sipil di Indonesia.[sumber:islamlib.com]

2 Tanggapan to “Luthfi Assyaukanie PhD: Kebebasan adalah Bagian dari Demokrasi”

  1. -Sebenarnya Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. mempunyai aturan dalil rumusan Agama Allah sesuai An Nashr (110) ayat 1,2,3 sendiri dalam menjelaskan rencana Allah sejak Adam awal (Awaluddin Adam sesuai Al Baqarah (2) ayat 30-39) sampai kiamat atau Adam akhir (Akhiruddin Adam sesuai Al A’raaf (7) ayat 27, Thaha (20) ayat 117).

    -Pada pokoknya ada satu garis lurus dan lengkap anatara kedua Adam itu yang pada pokoknya semua nabi/rasul hanya menyampaikan satu macam RISALAH TUHAN/ALLAH, sesuai Al Maidah (5) ayat 67 (tugas tiap-tiap rasul menyampaikan), Al An Aam (6) ayat 124,125 (Allah sendiri menyampaikan), Al A’raaf (7) ayat 62,60 (Nuh menyampaikan ditolak oleh pemuka agama), 68,66 (Hud menyampaikan ditolak oleh pemuka agama), 79,75 (Saleh menyampaikan ditolak oleh pemuka agama), 93,88 (Syuaib menyampaikan ditolah oleh pemuka agama), 144,109 (Musa menyampaikan ditolak oleh Fir’aun, pimpinan pemuka agama), Al Ahzab (33) ayat 38,38,40 (nabi Muhammad saw. menyampaikan ditolak oleh pemuka kafir Qurais), Al Jinn (72) ayat 23,26,27,28 (rasul yang dirido’i menyampaikan).

    -Sedangkan para penganut agama sejak Adam sampai kiamat hanya menyampaikan risalah tiap-tiap nabi/rasul yang dipujanya, sehingga didalam bathin pemuka agamanya dan umatnya memiliki rasa yang tidak disadarinya, yaitu ARBABAN/menyembah/mengkultuskan/menuhankan NABI/RASUL sesuai Ali Imran (3) ayat 80,79,64 dan ARBABAN pemuka agama selain Allah, sesuai At Taubah (9) ayat 31.

    -Sedang sifat ARBABAN adalah musrik menyimpang dari jalan yang lurus sesuai Al Hajj (22) ayat 31 dan tidak sampai kepada kiamat atau hari takwil kebenaran kitab sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53 yang wajib ditunggu-tunggu akan tetapi dilupakan.
    – Perasaan musrik agar dibunuh dengan hujjah ilmu RISALAH TUHAN/ALLAH sesuai At Taubah (9) ayat 5.
    – Perasaan musrik adalah najis sesuai At Taubah (9) ayat 28.
    -Perasaan musrik agar diperangi dengan hujjah ilmu RISALAH TUHAN/ALLAH. sesuai At Taubah (9) ayat 36.
    – Perasaan musrik jangan dido’akan (agar berubah jadi tidak musrik) sesuai At Taubah (9) ayat 113.
    – Perasaan musrik tidak ada ampunnya (untuk merubah jadi tidak musrik) sesuai An Nisaa (4) ayat 48,116.
    -Hal-hal tersebut adalah sumber asal-usul dari perselisihan persepsi antara agama-agama dan perpecahan didalam agama sesuai Al Baqarah (2) ayat 113, Ar Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,54., Yohanes 1:18,19,20,21.

    -Untuk penyelesaiannya Allah akan menjadikan umat yang satu pada era globalisasi, sesuai An Nahl (16) ayat 93 sempurna didalam Agama Allah sesuai An Nashr (110) ayat 1,2,3, sesudah agama disisi Allah adalah Islam kaffah dari dahulu, sesuai Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208.

    -Untuk mengerti semuannya itu agar semua manusia agama, keyakinan apapun membaca, mempelajari, meneliti sampai faham benar isi dari buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berisi XX+527 halaman, berikut lampiran acuan terpisah berukuran 63×60 cm.:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”,
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” SekDirJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Buku panduan “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema.

    I. Telah diserahkan pada hari Senin tanggal 24 September 2007 kepada Prof. DR. ibu Siti MUsdah Mulia, MA., (Islam), Ahli Peneliti Utama Balitbang Departemen Agama Republik Indonesia, untuk diteliti sampai mendapat keputusan membenarkan atau menolak dengan hujjah, sebagaimana buku itu sendiri berhujjah.

    II. Telah dibedah oleh:
    A. DR. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Islam, Presiden Republik Indonesia ke-4 tahun 1999-2001.

    B. Prof. DR. Boedya Pradipta, Penghayat Ketuhanan Yang Maha Esa, dosen FS Universitas Indonesia.

    C. Prof. DR. Usman Arif, Konghucu, dosen Filsafat Uviversitas Gajah Mada.

    D. Prof. DR. Robert Paul Walean Sr., Pendeta Nasrani, sebagai moderator, seorang peneliti Al Quran, sebagaimana Soegana Gandakoesoema meneliti Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru, keduanya setingkat dan sejajar dengan Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza 94 tahun, anak paman Siti Hadijah 40 tahun, isteri Muhammad 25 tahun, sebelum mendapat wahyu Allah 15 tahun kemudian pada usia 40 tahun melalui Jibril (IQ).
    Yang menjadi pertanyaan sulit untuk dijawab adalah apabila nabi Muhammad saw. sebelum menerima wahyu adalah orang baik, patonah, sidik, amin dan lain sebagainya diwaktu nikah dengan Siti Hadijah dengan ritual agama apa dan masing-masing beragama apa ?

    E. Pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2008, jam 09.00-14.30, tempat Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jl. Salemba Raya 28A, Jakarta, dalam rangka peringatan satu abad (1908-2008) kebangkitan nasional “dan kebangkitan agama-agama (1301-1401 hijrah)(1901-2001 masehi), diacara Seminar & Bedah Buku hari/tanggal: Selasa 27 Mei – Kamis 29 Mei 2008, dengan tema merunut benang merah sejarah bangsa untuk menemukan kembali jati diri roh Bhinneka Tunggal Ika Panca Sila Indonesia.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  2. Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Tersedia ditoko buku K A L A M
    Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
    Telp. 62-21-8573388


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: