beritamedan’s Weblog
terdepan untuk kebenaran

Kita sudah terhegemoni musik Barat

rithaony

catatan
tonggo simangunsong

Kenyataan bahwa eksistensi musik tradisional yang dewasa ini mulai terlupakan adalah sebuah fenomena yang tak bisa dipungkiri. Apa tanggapan etonomusikolog Rithaony Hutajulu mengenai hal ini? Berikut kutipan wawancaranya, baru-baru ini.

Apa penyebab fenomena ini?

Ada beberapa hal. Yang pertama, pengaruh agama. Khususnya di adat Batak, imej musik-musik tradisi itu selalu terkait dengan kepercayaan lama. Ada stigma yang buruk terhadap kesenian tradisional itu sendiri.

Kedua, modernisasi. Ada imej yang beranggapan bahwa musik tradisional itu kuno alias ketinggalan jaman. Faktor ini sangat kuat dampaknya.

Yang ketiga adalah media yang sangat jarang menampilkan seni tradisional. Mengapa rasa musikal generasi muda saat ini sangat kebarat-baratan? Karena musik dari sanalah [Barat – Red] yang sering mereka dengar dan tonton. Apa yang mereka dengar lewat media elektronik, dominasinya sangat tinggi. Musik yang datang dari barat [Pop bukan Klasik] menjadi sebuah musik yang lebih baik dari musik lain bagi mereka.

Bagaimana menjawab ini [ketika teknologi juga sudah menjadi elemen terpenting di musik]?

Kita tahu teknologi juga sudah menjadi elemen terpenting di musik. Namun teknologi jangan kita musuhi. Tapi dirangkul. Artinya, kita harus punya strategi juga untuk memasukkan seni tradisi ini ke media. Dalam bentuk rekaman CD misalnya. Atau hal lainnya, termasuk penciptaan komposisi.

Sebenarnya upaya itu sudah dilakukan. Semisal dengan penciptaan World Music, yang mengambil elemen-elemen tradisi. Di Barat, hal ini sudah banyak dilakukan. Juga di negara kita. Misalnya oleh Crishye yang berkolaborasi dengan pesinden Waljinah. Walaupun mungkin itu masih latah, namun setidaknya bisa menjadi peluang bagi pemusik-pemusik muda agar kembali ke tradisinya.

Hal ini jugalah yang sudah dilakukan Irwansyah Harahap, seniman Medan yang telah menggabungkan elemen-elemen tradisional Batak ke dalam satu gagasan baru. Ini merupakan salah satu cara untuk memasuki elemen musikal pada generasi muda ke depan.

Selain itu diperlukan juga kantong-kantong budaya, yang juga menampilkan seni tradisi. Jadi yang datang bukan hanya seniman, tapi dari semua kalangan. Di Jawa hal ini sudah lama dilakukan dengan adanya Gedung Kesenian Jakarta [yang rutin menampilan pertunjukan musik klasik -kontemporer dan tradisional], misalnya. Komunitas Utan Kayu di Jakarta, Kedai Kebun di Yogyakarta yang juga sering dikunjungi oleh kalangan ekspatriat.

Selain itu, masuk lewat jalur pendidikan. Bagaimana membuat paket-paket program bagaimana pengajaran seni tradisi yang dikemas untuk sekolah-sekolah. Sistem pendidikan kita sendiri selama ini sebenarnya sudah salah. Persepsi bahwa seni musik tradisional adalah sebuah elemen terpenting untuk diajarkan di sekolah-sekolah, sering diabaikan. Setelah itu, mengadakakan sosialisasi ke masyarakat. Pasalnya, saat ini seni tradisional ini sejauh ini masih selalu dikaitkan dengan adat-istiadat.

Soal lain, masyarakat dewasa ini lebih memilih yang praktis dan murah soal musik tradisional, bagaimana ini?

Itu memang tak bisa dipungkiri. Sekarang, fenomena yang terjadi di masyarakat lebih memilih yang praktis dan murah. Misalnya dengan memesan sajian musik keyboard yang menghilangkan elemen-elemen musik aslinya.

Jika memang keyboard lebih penting dipakai karena alasan biaya, sebaiknya alat musik tradisional asli jangan dilupakan. Keybord boleh saja disertakan, tetapi bukan untuk menghilangkan unsur musik yang ada. Melainkan untuk memperkaya unsur musik tradisional yang telah ada itu.

Persoalannya, kalau senimannya tidak bisa hidup secara ekonomi maka dia akan meninggalkan musik tradisional itu sendiri. Seperti banyaknya maestro Opera Batak yang meninggalkan kesenian tradisional setelah melalui jaman keemasannya pada tahun 1970 –an.

Makanya, kesenian pertunjukan tradisional, seperti Opera Batak yang dulu memiliki fungsi sosial; media komunikasi antar orang Batak, harus dibangkitkan kembali. Sayangnya, opera batak tak bisa mengikuti seperti yang terjadi di Jawa. Wayang misalnya, yang sampai saat ini masih menjadi sebuah tontonan yang masih digemari seiring dengan berjalannya modernisasi. Wayang masih mampu menjadi media yang edukatif bagi masyarakat, Jawa khususnya.

Jadi musik tradisional tidak hanya berpaku pada adat saja. Di mana ada acara adat, baru di situ seniman tradisional berfungsi. Seandainya ada media yang rutin mempertunjukan musik tradisional di luar dari kebutuhan adat itu. Sayangnya, pemerintah [Dinas Kebudayaan dan Pariwisata] juga tak memiliki keseriusan untuk menyikapi hal ini.

Apa yang patut disayangkan dari hal ini?

Disangsikan, generasi muda ke depan bisa-bisa kehilangan identitasnya seiring dengan masalah regenerasi itu. Semisal, gendang karo yang konon merupakan gendang terkecil di dunia sangat sulit untuk menemui orang yang bisa memainkannya saat ini. Yang lebih sulit lagi, menemukan orang yang bisa membuatnya.

Sementara orang Jepang bersusah payah untuk merekam musik-musik etnik yang ada di dunia, termasuk Batak, mengapa kita justru meninggalkan musik kita sendiri.

Di Jepang pengenalan musik etnik lewat sekolah sudah dilakukan untuk mengedukasi anak-anak sekolah bahwa ada banyak musik di dunia ini. Intinya, bukan hanya itu musik yang ada di sekitarmu. Sehingga wawasan musikal masyarakat Jepang itu sangat luas. Jadi setelah seorang anak tumbuh dewasa, ia sudah memiliki dasar yang kuat, sekalipun ia hidup di jaman modernisasi yang sudah serba canggih.

Nah, bagaimana dengan generasi muda di negara kita, Medan khususnya?

Generasi muda kita memang sudah terhegemoni oleh selera [pop] barat. Nah, dalam kondisi ini sebenarnya tidak boleh disikapi dengan sikap pesimis. Solusinya apa? Itu yang harus dipikirkan.

Kita tidak mengharapkan ke depan semua generasi muda seragam menjadi penikmat atau seniman tradisi. Namun, paling tidak musik tradisi bisa dijadikan inspirasi.

Di era global sekarang, orang seharusnya semakin sadar dengan identitasnya. Sebab, musik tradisional juga adalah bagian indentitas diri.

2 Tanggapan to “Kita sudah terhegemoni musik Barat”

  1. Artikel di blog ini bagus-bagus dan berguna bagi para pembaca.Anda bisa lebih mempromosikan artikel anda di Infogue.com dan jadikan artikel anda topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin/widget.Kirim artikel dan vote yang terintegrasi dengan instalasi mudah dan singkat.Salam Blogger!!

    http://www.infogue.com/
    http://www.infogue.com/musik/kita_sudah_terhegemoni_musik_barat/

  2. salam nusantara!menggila maya!
    salam kenal………………
    ya…saya sangat setu kalau tradisi sudah di lupakan…
    saya juga menulis sedikit tentang itu di blog saya.
    kunjungi blog saya ya mbak…
    dan pada kesempatan perkenalan ini saya mengundang mbak….

    PERSEMBAHAN WORLD MUSIC

    “ THE PANTHOM OF THE TRADITIONAL OPERA”

    3 JULI 2008, PKL 20.00 WIB sd Selesai

    GRAHA BAKTI BUDAYA, TAMAN ISMAIL MARZUKI ( TIM )

    SEBUAH PAGELARAN MUSIK ANAK BANGSA YANG MENGKOLABORASIKAN INSTRUMEN TRADISIONAL

    INDONESIA DAN MANCANEGARA,SEPERTI : ( Talempong, Sitar India,Erhu, Kecapi, Saluang , Ghu zheng , Bonang , Didgeridu , Seronen , Kong Ah Yan , Rebab , Juga alat alat Musik modern dan lain sebagainya )

    MAHAGENTA MEMBERI WACANA BARU BAGI PENDENGAR DAN PENIKMAT SENI KHUSUSNYA MUSIK BAHWA ALAT MUSIK TRADISIONAL INDONESIA MAMPU MEMAINKAN KARYA YANG MEGAH DAN FENOMENAL ITU ( PANTHOM OF THE OPERA ) , SEPERTI APA JADINYA KOLABORASI ITU???. KAMI TUNGGU KEHADIRAN ANDA…….

    SALAM BUDAYA

    Menggila maya!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: