beritamedan’s Weblog
terdepan untuk kebenaran

Maulana Ahmadi SE: “Matang dengan Pola Pertemanan”

maulana
catatan
ingot simangunsong

Maulana Ahmadi SE (35 tahun), ketika “ditandangi” beritamedan.com, Jumat (28/3), mengaku sudah 2 tahun 2 bulan dan 28 hari bertugas sebagai External Affair Northern Sumatera-XL di Medan. Banyak pengalaman yang dapat dia simpan setelah bergaul dengan para wartawan di kota ini. Menurutnya, salah satu kunci sukses menjadi public relation adalah bagaimana ia harus menekan ego dan tampil low profile.

Sebagai External Affair Northern Sumatera-XL, Maulana memiliki cakupan wilayah kerja mulai dari Medan, Banda Aceh, Padang, Batam dan Pekanbaru. Ayah dua anak ini, tidak pernah terpikir berkiprah sebagai public relation (PR). “Apa yang saya tekuni sekarang ini, sangat bertolak belakang dengan disiplin ilmu yang saya dapat di perguruan tinggi,” kata suami dari Yuni Intansari dan ayah dari Haikal Ammar Ahmadi serta Naufal Radin Ahmadi yang alumni tahun 1999 Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma Jakarta ini.

Apa yang membuat Anda demikian tertarik dengan bidang public relation?

Semuanya berawal dari tuntutan tugas. Background pendidikan saya, juga tidak di PR. Saya menyelesaikan S1 di bidang ekonomi dan ketika bergabung dengan XL dipercayakan untuk menduduki jabatan government relation. Di posisi ini, saya lebih banyak membangun hubungan dengan pemerintahan (birokrat). Memang, selain memegang jabatan government relation, saya juga dipercayakan sebagai coorporate communication.

Kemudian saya dipindahkan ke bidang public relation. Terus terang ketika mendapatkan jabatan tersebut, saya benar-benar belum memahami media itu seperti apa. Saya belum paham bagaimana pola pendekatan terhadap media.

Seperti apa ketika itu Anda melihat wartawan Medan?

Saya merasa penampilan wartawan Medan itu unik dan aneh. Terus terang, saya justru banyak belajar tentang public relation dari kawan-kawan wartawan. Saya banyak lebih memahami dunia komunikasi itu dari para wartawan. Pengalaman yang demikian berharga, saya dapat kiat bagaimana pola pendekatan yang harus dilakukan terhadap media maupun wartawan. Saya merasa, tanpa media dan wartawan, saya sebenarnya tidak bisa apa-apa. Kemudian setelah berteman demikian lama dengan media dan wartawan, saya mengambil kesimpulan bahwa apapun produk yang ingin kita perkenalkan, sangat tergantung pada kemampuan PR-nya.

Seperti apa pola pendekatan yang Anda lakukan?

Apa yang selama ini saya lakukan saat mengemban jabatan sebagai government relation, saya merasa pola pertemanan merupakan pola pendekatan yang demikian efektif. Membangun pertemanan itu, saya lakukan dengan cara berdialog. Hal ini (dialog) menjadi modal dasar untuk dapat saling memahami fungsi masing-masing. Kalau kita tidak punya kemampuan membangun sebuah pertemanan, setidaknya hal itu akan menjadi masalah tersendiri dan akan menghambat perkembangan karier.

Dengan siapapun, saya akan selalu berusaha membangun pertemanan. Berteman itu sesuatu yang indah. Artinya, dengan membina pertemanan kita sedang membangun sebuah jaringan yang tanpa disadari bisa menjadi sebuah kekuatan.

Sejak kapan Anda menyadari pentingnya pola pertemanan tersebut?

Saya menyadari hal ini justru masih belum lama, persisnya Januari 2006. Ketika itu, jika saya berpikir kaku dalam menargetkan hasil kerja saya sebagai PR dengan media dan wartawan, saya tidak akan pernah mencapai seperti apa yang saya dan perusahaan inginkan. Jadi saya tidak ingin membangun “jarak” antara jabatan saya dengan teman-teman media maupun wartawan. Jadi, saya harus berada di dua sisi yakni menaikkan imej perusahaan dan mendekatkan diri dengan teman media serta wartawan. Itu tadi, pola yang saya kembangkan bagaimana membina pertemanan.

Dengan pola seperti apa Anda membangun pertemanan?

Saya berusaha untuk membaur dan bagaimana bisa masuk ke dunianya para wartawan.

Artinya Anda mengalah?

(Tertawa) Mengalah kan tidak harus selamanya kalah. Yang saya lakukan bagaimana menyeimbangkan antara saya dengan wartawan yang sama-sama sedang menjalankan fungsi tugasnya. Bagaimana kita bisa saling mengisi dan saling memahami. PR itukan harus low profile. Tidak harus menonjolkan keakuan walau merasa kesal. Anggap saja semuanya proses pembelajaran. Saya selalu berpikiran positip saja terhadap apa yang terjadi dan dialami. Terhadap yang negatif pun, belum tentu hasilnya negatif, karena bisa saja negatif menghasilkan hal positif.

Pernah merasa gerah saat berhadapan dengan wartawan?

Awalnya ya. Ini bercerita ketika awal tiga bulan saya bekerja sebagai PR, sebagian dari teman-teman wartawan, selalu mencari kelemahan-kelemahan dari manajemen kita. Gerah juga ketika itu. Padahal kita saat itu berharap kalau pun ada sisi kurang baiknya, harus dilakukan dengan perimbangan. Ya, kita maunya dikonfirmasi. Tapi, itu cerita dulu. Sekarang, saya merasa berterimakasih karena teman-teman sudah memahami pentingnya keseimbangan dalam menyampaikan informasi. Setidaknya, kita sudah bisa berdialog.

Orang Medan unik sekali. Polos dan langsung-langsung kalau menyampaikan sesuatu. Ada istilah yang selalu muncul, yaitu kata hajar. Tapi, semuanya itu justru memotivasi saya. Setelah saya berhasil membangun jaringan dengan teman wartawan di Medan, ke tempat lain di wilayah kerja saya, jadi enak membangun hubungan dengan teman-teman wartawan.

Jadi, saya merasa Medan ini tempat proses pembelajaran dan pematangan dalam memahami kemauan media dan teman wartawan.

Apa hasil yang paling berkesan dari pertemanan yang Anda bina selama ini?

Ketika saya dipanggil pihak pemerintah maupun anggota dewan, saya sempat merasakan adanya tekanan. Tekanan dalam pengertian perasaan sendiri yang membebani. Namun, saat saya ajak teman-teman wartawan untuk membahas materi pemanggilan, saya malah mendapatkan bantuan yang luar biasa dan membuat saya menjadi percaya diri dalam menghadapi apapun. Apakah itu ketika berhadapan dengan pemerintah maupun anggota dewan.

Saya sangat merasakan betapa besarnya kekuatan sebuah pertemanan dalam menyelesaikan masalah apapun. Bahkan, ketika ada berita yang bernuansa “miring”, teman-teman wartawan berusaha untuk memberikan pemahaman kepada teman lainnya, sehingga masalah tersebut tidak terekspos.

(Maulana yang akrab dengan panggilan Olan ini, kemudian mengisahkan tentang sebuah acara bergengsi yang gagal digelar. “Kalau saya tidak bangun hubungan pertemanan dengan teman-teman wartawan, wah sudah remuk saya. Tapi, teman-teman mau mengerti dan saya terselamatkan,” kata anak keempat dari sebelasan bersaudara dari pasangan Zaenuddin dan Suparti ini.)

Sudah berkeluarga?

Sudah. Bersama istri, kami sudah dikarunia dua anak.

Dengan wilayah kerja yang cukup luas, bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga?

Kalau diperhatikan kerja yang demikian padat, saya ya merasa kasihan harus sering-sering meninggalkan keluarga. Namun, dalam keadaan sesibuk apapun, saya selalu mengutamakan keluarga. Di dalam hati saya, keluarga itu nomor satu. Saat ada waktu luang, saya akan manfaatkan untuk keluarga. Dan istri saya, selalu mengingatkan tentang kesetiaan.

Saya ini orang yang tidak bisa jauh dengan keluarga. Apalagi istri saya itu teman curahan hati. Karena sering meninggalkan keluarga, istri selalu mengingatkan, bahwa saya punya anak, dan keluarga, jadi saya harus setia dengan istri.

Arti keluarga bagi Anda?

Woo…besar sekali arti keluarga bagi saya. Keluarga itu tempat bagi saya berkeluh-kesah, tempat saya berbagi sakit dan bahagia. Setiap saya mendapat masalah di kantor atau dari mana saja, setelah melihat istri dan anak-anak, saya langsung lupakan masalah yang ada. Kelurga tetap menjadi nomor satu di hati.

Peranan orangtua dalam membangun karakter Anda?

Orangtua saya yang laki-laki pegawai negeri di kejaksaan. Ia selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak menjadi pegawai negeri. Menurut ayah saya, di lingkungan pegawai negeri terlalu banyak godaan yang akan dihadapi dan kami dianjurkan untuk menjadi pegawai swasta yang lebih mengutamakan rasa tanggungjawab dalam tugasnya.

Ayah selalu berpesan agar anak-anaknya tidak berurusan dengan hukum. Kalau ada masalah yang dihadapi berkaitan dengan hukum, saya selalu diskusi dengan ayah.

Bagaimana Anda beradaptasi dengan para eksekutif senior?

Saya banyak belajar dari para senior. Saya menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan yang perlu dibenahi. Banyak sekali yang harus saya pelajari. Namun, karena kedekatan saya dengan teman-teman media maupun wartawan, proses pembelajaran bisa lebih mudah. PR kan tidak hanya ke media saja, juga berhadapan dengan masyarakat. Ini juga banyak memberikan masukan-masukan sehingga semakin memperkaya refrensi saya dalam berkomunikasi dengan siapa saja.

Belum Ada Tanggapan to “Maulana Ahmadi SE: “Matang dengan Pola Pertemanan””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: