beritamedan’s Weblog
terdepan untuk kebenaran

Lim Hartati SE: “Usaha Saya Dihancuri Preman”

LIM
LIM-1

catatan
ingot simangunsong

LIM Hartati SE (37 tahun), ibu tiga anak penduduk Jalan Sei Kera Medan ini, mengharapkan adanya keadilan dari pihak kepolisian dalam menindak lima pelaku perusakan restoran “I Love You”, miliknya. “Usaha saya dihancurkan para preman dan saya butuh keadilan,” kata Hartati saat menerima wartawan beritamedan.com di rumah yang sekaligus tempat usahanya itu, Sabtu (8/3).

Hartati tidak dapat menyembunyikan perasaan sedih sekaligus jengkel di hatinya. Ketika disinggung mengenai musibah yang menimpahnya, ia dengan nada emosi membeberkan kejadian tersebut.

Pada Selasa 15 Januari 2008, sekitar pukul 23.00 WIB, lima orang preman mendatangi restorannya. Hartati yang sudah mencium gelagat tidak mengenakkan, segera menghampiri kelima preman tersebut.

“Saya sempat menanyakan, apa yang ingin mereka pesan dan mempersilahkan duduk. Tapi mereka tidak menjawab. Dengan wajah beringas mereka menghampiri meja di mana tamu saya bernama Chandra duduk,” kata Hartati.

Kelima preman itu terlibat adu mulut dengan Chandra. Hartati yang tidak ingin tempat usahanya dijadikan ajang perkelahian, berusaha melerai. Ternyata usaha itu sia-sia, Hartati malah mendapat bogem mentah dari salah seorang preman dan tangan kanannya dipelintir.

“Saya jatuh tersungkur. Wajah saya memar, tangan saya terkilir dan sempat divisum,” kenang wanita alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Methodist Indonesia (UMI) ini.

Setelah itu, para preman tersebut dengan beringas menghancurkan steling, kursi dan meja makan, serta seluruh isi restoran. Hartati tidak bisa berbuat apa-apa dan karena ketakutan harus bersembunyi.

“Saya tidak tahu apa salah saya sehingga mereka berbuat begitu. Saya kenal mereka sebagai pemuda setempat. Kalau mereka tidak senang dengan orang lain, kenapa usaha saya yang mereka hancuri,” kata Hartati.

Mengadu ke Polisi
Setelah kelima preman itu bertengkar dengan Chandra dan menghancuri seisi, tamu restoran Hartati yang lainnya, juga menjadi sasaran. Merasa tidak tahan menghadap kelima preman itu, beberap tamu Hartati berhamburan naik ke lantai dua rumahnya.

Ya ampun, di sebuah ruangan lantai dua yang berdampingan dengan kamar tidur ayahnya Hartati, tamu-tamu itu dihajar para preman. Mereka babak belur. Ada yang kepalanya mengucurkan darah. Puas memukul, para preman itu turun dan berusaha mencari Chandra. Karena Chandra sudah tidak kelihatan, para preman itu pun meninggalkan restoran tersebut.

Karena mendapat perlakuan semena-mena itu, Hartati pun dianjurkan untuk membuat laporan ke pihak kepolisian. Ditemani Chandra yang juga membuat laporan, Hartati meminta perlindungan hukum ke Poltabes Medan. “Karena saya masih dalam kondisi kurang baik, saya hanya membuat laporan saja. Kemudian dianjurkan untuk visum,” kata Hartati.

Keesokan harinya, Hartati memberikan keterangan bagaimana kronologis kejadian sebenarnya kepada petugas. “Saya berharap, para preman itu ditangkap dan diproses karena saya tidak punya salah apa-apa,” kata Hartati yang mengaku masih trauma.

Namun, menurut cerita Hartati, sebelum ia membuat laporan, kelima preman itu sempat sesumbar mengatakan: “kalau mau lapor ke polisi silahkan.” Hal inilah yang membuat perasaan Hartati merasa kecut. Apalagi dia sudah sepat diberi infomasi, bagaimana sepakterjang para preman itu.

Diteror
Setelah Hartati menyampaikan pengaduan ke pihak berwajib dan sampai saat ini para premannya tidak ditangkap dan masih berkeliaran, Hartati merasa semakin trauma dan tidak bisa tenang. “Saya merasa ketakutan dan trauma. Bahkan saya sering mendapat teror baik ditelepon maupun di-sms. Tidak hanya itu, rumah saya sering dilempari,” kata Hartati.

Soal trauma, tidak hanya Hartati yang merasakannya. Ayah dan anak bungsunya juga merasakan hal yang sama. “Ayah saya yang sudah sakit-sakitan itu, tidak berani turun dan bicaranya sering ngelantur,” kata Hartati.

Anak yang bungsu, sempat menyaksikan bagaimana para preman itu menghajar tamu-tamu di restoran tersebut. “Anak saya turun dari lantai dua dan melihat darah bercucuran dari lantai dua hingga bawah. Dia menangis sembari memeluk saya,” katanya.

Hartati sendiri, tidak bisa melupakan bagaimana seorang preman dengan seenaknya merapatkan dua benda tajam di lehernya. “Saya sangat takut sekali ketika dua pisau di letakkan di leher saya. Preman itu mengancam, kamu keluarkan tidak tamu yang bersembunyi. Saya sudah pasrah saja,” kata Hartati.

Karena takutnya, sampai saat ini, jika Hartati sedang berada di luar rumah, senantiasa menelepon untuk menanyakan apakah ayah, suami dan anak-anaknya merasa aman. “Dua karyawan saya, karena merasa ketakutan, sudah meninggalkan kami. Mereka sebagai saksi merasa ketakutan, karena para preman itu tidak ditangkap juga,” kata Hartati yang mempekerjakan tiga karyawan ini.

Habis Sudah Usaha Dari Nol Itu
Hartati yang berasal dari keluarga tidak mampu ini, mulai membuka usaha restorannya lebih kurang empat tahun. Ia memulainya dari nol, dan merintis dengan bercucuran keringat. “Saya buka usaha saya dengan modal empat meja. Dengan modal pas-pasan dan kekuatan semangat, saya berusaha terus. Saya tidak pernah meliburkan restoran. Saat Imlek pun, hanya dua hari tutup. Sakitpun saya tahankan, karena saya memang membutuhkan penambahan penghasilan keluarga,” kata Hartati yang mengaku suaminya bekerja dengan gaji pas-pasan.

Hartati memang tidak habis pikir, apa sebenarnya kepentingan para preman itu menghabisi usahanya. “Saya baru saja dua minggu menggantikan steling, dan usaha saya baru sedang baik-baiknya berkembang. Saya bina dari nol, dan dihabisi dengan cara preman,” katanya dengan nada emosi.

Dari empat meja, Hartati beranjak maju dengan menambah meja lima lagi, sehingga keseluruhannya sembilan meja. Setiap malam, ia bisa meraup keuntungan Rp 500.000. Itu sudah bersih. Hasil inilah yang baru beberapa bulan dinikmatinya, dan kini sudah hancur karena masalah yang dia tidak mengerti kenapa harus tejadi.

“Padahal, saya merasa terbantu sekali dengan usaha ini. Saya bisa menanggulangi kebutuhan keluarga dan biaya perobatan ayah saya yang sudah sakit-sakitan,” katanya.

Hartati meminta pihak kepolisian untuk lebih serius dan sesegera mungkin menangani kasus ini. “Saya dan keluarga saya, setiap hari butuh makan. Kalau saya merasa tidak nyaman dan tidak aman, bagaimana bisa mencari nafkah,” kata Hartati yang mengaku, ia mengalami kerugian puluhan juta. Untuk membuka usaha ini, ia lebih dulu mengharapkan adanya kepastian hukum dan rasa keadilan.

“Saya ingin keadilan. Tidak adil orang yang merusak usaha saya tidak ditangkap pihak kepolisian,” katanya.

Belum Ada Tanggapan to “Lim Hartati SE: “Usaha Saya Dihancuri Preman””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: