beritamedan’s Weblog
terdepan untuk kebenaran

Abdul Hakim Siagian SH: Menyeimbangkan Rasio, Nurani dan Napsu

abdul hakim

catatan
ingot simangunsong

Abdul Hakim Siagian dilahirkan 15 Agustus 1965 di Asahan dengan garis keturunan Batak dari pasangan Haji S Siagian dan Hajjah S boru Tambunan. Ia sangat mengidolakan kedua orangtuanya yang demikian taat beragama, menegakkan disiplin tinggi dan memiliki cita-cita agar semua anaknya bersekolah. Cita-cita itu memang terwujud, dari 10 bersaudara, sembilan dari mereka berhasil meraih titel sarjana.

“Orangtua saya selalu mengatakan, yang paling baik bekal itu, adalah ilmu pengetahuan. Kalau bekal harta yang dicari, maka kita yang menjaganya. Tapi kalau ilmu pengetahuan bekal kita, maka ilmu pengetahuan itu yang menjaga kita,” kata anggota DPRD Sumut dari Fraksi Partai Amanat Nasional ini, saat menerima beritamedan.com di Jalan Gurilla Medan, Sabtu (1/3).

Hakim menyadari, bahwa pandangan hidupnya berproses dari sekian ragam perjalanan. Ia sangat terkesan dengan filosofi orang Batak, yaitu hamoraon, hagabeon dan hasangapon. Hamoraon itu, beranak pinak atau memiliki keturunan yang sehat, cerdas dan pintar. Hagabeon, berkeadaan atau memiliki harta benda. Hasangapon, bermatabat dan berwibawa.

“Ketiganya ini harus seimbang dan sinkron. Tidak bisa memiliki kekayaan (hagabeon), dengan cara mengorbankan martabat (hasangapon). Jangan mencari harta dengan menjual diri, atau jangan untuk beranak-pinak dengan mengebaikan upaya mencari harta. Jadi harus ada keseimbangan antara hamoraon, hagabeon dan hasangapon,” kata suami dari M boru Butarbutar SH yang penggemar buku Khalil Gibran, Emha Ainun Najib, Eep Saifullahfatah, dan Frans Magnis Suseno ini.

(Karena secara ekonomi, berasal dari keluarga yang susah dan keluarga banyak, Hakim menyadari bahwa lingkungan bergaulnya sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya. Di antaranya para senior, sahabat dan guru-gurunya sangat berjasa menempah dirinya.

“Dari sekian banyak yang bisa dipetik, saya harus menjaga persahabatan. Ini modal dasar. Saya sangat setuju pada filosofi yang mengatakan, kawan seribu terlalu sedikit, musuh satu terlalu banyak. Prinsip dalam persahabatan, saya memegang teguh yang namanya kesetiaan, terus terang dan terbuka. Kemudian, jangan pernah membuka aib sahabat, karena setiap manusia punya kelemahan dan kesempurnaan itu hanya milik Allah Swt,” kata ayah dari Putri, Balgis, Longgom, Fajar dan Syafira ini.)

abdul hakim1

Dari proses keragaman perjalanan tersebut, pandangan hidup yang bagaimana yang demikian mempengaruhi diri Anda?

Dalam konsep agama, manusia inikan disebut hewan berakal. Artinya karakter dan sifat hewan itu masih tetap melekat, yang biasanya dimunculkan dari napsu yang mendominasi. Justru karena itu, filosofi saya bagaimana menyeimbangkan antara tiga pada tubuh kita, dari leher ke atas disebut rasio, dari leher ke bawah sampai pusat disebut nurani, dan dari pusat ke bawah disebut napsu (sahwat).

Kecenderungan saya dalam melakoni aktifitas ini, memadukan di antara yang tiga itu. Jadi, tidak hanya semata mengedepankan rasio atau logika, kemudian juga tidak lebih mendahulukan perasaan (nurani/kata hati), dan tidak mendominankan napsu. Penggabungan ketiga unsur inilah yang berproses dalam memunculkan sikap dan pilihan.

Sejak kapan Anda mulai menyadari pentingnya menjalani proses pandangan hidup tersebut?

Saya sejak kecil sangat rajin membaca. Belum sekolah pun saya sudah bisa membaca. Buku abang-abang sudah saya baca. Misalnya, dari buku karang Kho Ping Ho, saya menangkap alur cerita bagaimana perjalanan hidup seorang pendekar dan pejahat. Buku bacaan banyak memberikan inspirasi dalam membentuk pandangan hidup saya.

Bagaimana Anda mengemasnya sehingga bisa demikian utuh dalam perjalanan hidup Anda?

Sebenar tidak ada kemasan cukup berarti, karena apa yang dapat saya tangkap, masih dalam tatanan yang normal. Dalam tatanan yang sifatnya khusus atau peristiwa tertentu, sebagai manusia yang lemah saya juga sering mengalami keguncangan.

Saat mengalami keguncangan itulah saya merasakan betapa besarnya peranan kawan-kawan. Hampir sama halnya terjadi pada teman-teman, biasanya saya melakukan yang sama.

Keguncangan yang paling berat Anda rasakan pada saat Anda di posisi bagaimana?

Itu saya rasakan sekali ketika bersekolah. Pada kondisi perekonomian orangtua demikian susah, saya harus berprestasi di sekolah. Alhamdulillah, setelah selesai di pendidikan, hampir tidak adalagi yang berarti persoalan-persoalan, atau katakanlah beban berat yang harus saya hadapi. Saya mulai menyadari bahwa kehidupan ini mengalir seperti air.

Anda bersaudara 10 orang, bagaimana pola kedua orangtua Anda dalam menanamkan pandangan hidup?

Orangtua saya itu, disiplinnya luar biasa tinggi. Satu hal yang mereka contohkan, adalah ketauladanan dengan menunjukkan ibadah. Orangtua saya sangat disiplin dalam beribadah. Kelebihan orangtua saya, merupakan kelemahan saya karena saya belum mampu mengikuti kedisiplin mereka dalam beribadah.

Ketika menyadari bahwa demikian besar peranan orangtua dalam membentuk pandangan hidup Anda, apa yang terlintas dalam pemikiran Anda tentang kedua orangtua tersebut?

Setelah saya kawin dan punya anak, barulah saya merasa mantap memaknakan posisi orangtua bagi saya. Khususnya mamak (ibu). Saya baru menyadari bahwa kasih ibu itu tak berhenti dan tak berujung. Kemudian dikonversi pada balasan atau imbalan, maka dengan apapun kasih ibu itu tak akan sebanding dan tak terbalas.

Artinya, Anda mau mengatakan bahwa peranan ibu sangat dominan dalam perjalanan hidup Anda?

Ya. Saya memang lebih dekat dengan mamak. Namun pada masa pubertas, timbul “pemberontakan” dalam jiwa saya. Hal itu berkaitan dengan didikan yang demikian keras dan masalah kemiskinan. Saya dari dulu bercita-cita ingin sekolah ke luar negeri, alternatifnya Jepang. Namun semuanya kandas. Hal inilah yang menimbulkan semacam penyesalan, kenapa saya tidak dilahirkan di lingkungan keluarga yang berkecukupan. Inilah bagian dari “pemberontakan” saya.

Ketika Anda menyadari kemiskinan tersebut, apakah yang muncul amarah?

Ya. Itulah “pemberontakan” dalam diri saya.

Untuk siapa amarah itu Anda tujukan kepada siapa?

Amarah kepada lingkungan dan termasuk kepada orangtua. Kenapa saya dilahirkan dari lingkungan keluarga yang serba tidak mampu, sehingga menurut saya, itulah faktor yang menyebabkan saya tidak bisa menggapai cita-cita bersekolah ke Jepang.

Anda tidak frustasi?

Tidak juga, karena saya menyadari bahwa kehidupan inikan merupakan pilihan-pilihan. Kemudian saya mengambil perbandingan dengan sekian banyak teman yang lebih tidak memiliki pengharapan. Misalnya, anak-anak yang orangtuanya terlibat G30S/PKI.

Ibu Anda dapat membaca “pemberontakan” yang berkecamuk dalam diri Anda?

Ya. Ibu saya sangat menyadari “pemberontakan” tersebut.

Apa yang Ibu Anda katakan dalam menanggapi “pemberontakan” tersebut?

Saya ingat sekali, mamak saya mengatakan, orang miskin, orang kaya, anak pejabat, lelaki-perempuan, tinggalnya di mana, pada umumnya itu lebih kepada kekuasaan Tuhan. Akhirnya, saya menyadari bahwa “pemberontakan” itu salah. Saya mulai melihat bahwa masih banyak anak-anak yang lebih miskin dari saya dan tidak memiliki kesempatan.

Setelah itu, saya memutuskan untuk senantiasa berbuat baik kepada orangtua. Kemudian setiap yang saya lakukan, yang sifatnya agak strategis, saya selalu minta nasehat kepada mamak saya.

Anda sangat bangga sekali dengan Ibu?

Di samping melahirkan saya, mamak itu tidak pernah mengecap pendidikan yang memadai. Tapi, untuk yang namanya kearifan, di luar pikiran kita, mamak mampu menyampaikan kata-kata yang bijak. Contohnya, mamak mengatakan, bahwa saya tidak bisa memilih siapa orangtua saya. Tidak bisa memilih di mana dilahirkan, dan tidak bisa memilih di mana kita akan mati.

Saya diingatkan mamak, bahwa Tuhan sudah mengatur bagaimana perjalanan umat manusia. Dengan usahalah segala sesuatunya bisa berubah. Artinya, jangan berharap nasib kita itu berubah, kalau bukan kita yang merobahnya. Masing-masing kita, sudah punya takdir. Tapi, takdir itu diketahui setelah terjadi. Saya juga diminta, jika sudah berada di atas, jangan lupa melihat ke bawah. Kenapa demikian, karena ini merupakan cara menjaga keseimbangan dalam hidup.

Bagaimana orangtua menanggapi perobahan dan keberhasilan yang Anda dapat saat ini?

Orangtua saya tidak pernah mengomentari apa-apa yang sudah dicapai anak-anaknya. Mereka hanya mengatakan, berusahalah sekeras mungkin, agar kami tidak seperti mereka. Mudah-mudahan kami selalu sukses dan dapat mendidik anak-anak.

(Hakim mengaku, apa yang diraihnya saat ini, di samping bantuan Tuhan yang hampir tidak bisa diduga, tetapi juga adalah karena adanya keteguhan, modal loyalitas dan persahabatan. Ia menjelaskan, aksioma yang dipegang untuk berusaha, diambil dari dalil agama.

“Kata Tuhan, berusahalah kamu niscaya akan Kuberi. Artinya, bila syarat usaha dipenuhi maka hasil akan kita peroleh, apalagi dibarengi dengan doa. Kemudian, bila tidak berhasil, aksioma berikutnya, apa yang kita peroleh pasti yang terbaik bagi kita. Tinggal, apakah kita mampu mencari hikmah dari hal itu. Saya selalu cepat beradaptasi, bahwa kegagalan itu adalah hasil yang terbaik dan kemudian mencari hikmah dari kegagalan tersebut,” kata Hakim yang pernah menekuni dunia kepengacaraan ini.)

Apa hikmah yang didapat dari dunia pengacara?

Secara ekonomi memang agak lumayan. Namun, kepuasan batin, masih agak jauh dari ketenangan. Prinsip penanganan perkara, semakin besar atau semakin berat beban perkara, maka semakin berat kecemasan dan beban yang kita derita. Apakah itu pemikiran, godaan, ancaman sampai kepada teror.

Jadi, ini salah satu faktor yang membuat Anda bergeser ke politik?

Tidak juga. Apa yang saya lakoni sekarang ini seperti air yang mengalir. Saya sebelumnya kan dosen, karena merasa dosen tidak bisa menjanjikan perobahan-perobahan, saya beralih menjadi pengacara, kemudian terjadi proses lain yang membawa saya ke politik. Jadi itu tadi, semuannya mengalir seperti air.

Bagaimana Anda berproses di dunia politik?

Saya berusaha untuk beradaptasi. Ternyata di politik, tak sekejam yang dipersepsikan selama ini. Stigma terhadap politik, memang luar biasa negatif. Padahal, ternyata tidak separah itu. Apalagi di politik ini ada asyik-asyiknya, artinya ada tantangan-tantangan.

(Hakim mengaku, tidak begitu menikmati dunia politik. Namun, semuanya akan dijalani dengan konsep seperti air mengalir. “Kalau masih dipercaya, saya akan tetap berpolitik. Tapi, kalau sudah tidak diperlukan lagi, saya akan tunggu air mengalir. Namun, saya bercita-cita di hari tua nanti, akan menjadi petani,” kata Hakim yang saat ini memang sedang konsentrasi untuk peduli dengan kaum petani dan nelayan.

Walau ia seperti berteriak di gurun pasir, akan tetap berjuang bagi petani dan nelayan. “Kita telah menzdolimi petani dan nelayan,” katanya.)

4 Tanggapan to “Abdul Hakim Siagian SH: Menyeimbangkan Rasio, Nurani dan Napsu”

  1. Kiprah Pak Hakim Siagian dalam jagad politik, terkadang bak sepi di tengah keramaian. Siagian yang idealis dan kritis, suatu saat nyaris frustrasi menghadapi lingkungannya yang dipenuhi ‘ular’, ‘kalajengking’, ‘lipan’, ‘kobra’, dll.
    Sumut butuh lebih banyak politisi cerdas dan punya integritas seperti Bung Hakim Siagian…….horasss, njuah-njuah

  2. Berjuang terus Bang,buat Sumatera Utara………….
    Semangat !!!

  3. Bung Hakim Siagian, sosok pemimpin yang bersahaja. Dia sudah bulat dalam taruhan tunggal didunia pengabdian untuk rakyat. Perjuangannya membela hak-hak rakyat tertindas khususnya petani dan nelayan tak diragukan.

    Bung Hakim Siagian adalah cermin utuh pemimpin alternatif, yang lahir dari gejolak reformasi. Maju terus, rakyat pasti mendukung.

  4. Maju Trus ..!!
    Kami siap untuk Abang..!!

    Njuah-Njuah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: