beritamedan’s Weblog
terdepan untuk kebenaran

Drs Eddy Sofyan MAP: “Kerjalah dengan Keikhlasan Hati”

eddy

catatan
ingot simangunsong

“Selama kita tidak bisa menanamkan rasa cinta terhadap pimpinan, maka akan sulit bagi kita untuk berkembang. Jadi harus ada kepasrahan dengan tidak memandang berapa materi yang diterima atau jabatan apa yang harus didapat. Kerjalah dengan keikhlasan hati, walau harus ditugasi menggunting koran.”

Itu kumpulan kalimat yang disampaikan Eddy Sofyan saat omong-omong di ruang kerjanya di Lantai III Kantor Gubernur Jalan Diponegoro Medan. Eddy menjadi pegawai negeri sejak tahun 1989. Itu setelah ia selesaikan pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sumatera Utara. Ia ditempatkan di Biro Humas Pemprovsu.

Ia mengaku tidak pernah memilih dan memilah pekerjaan.Apa yang diperintahkan pimpinan selalu dikerjakan, walau itu harus menggunting koran.

Pandangan hidup Anda berkaitan dengan pekerjaan?

Pekerjaan itu harus dinikmati. Jangan pernah berpikir untuk mendapatkan sesuatu atau sebuah jabatan. Saya hanya bekerja, bekerja dan bekerja. Saya selalu loyal kepada pimpinan dan kepala biro humas.

Ketika pergantian Gubsu dari almarhum Raja Inal Siregar kepada almarhum HT Rizal Nurdin, sempat beredar isu bahwa saya itu dianggap sebagai antek-anteknya Raja Inal. Perinsip saya, saya harus mengantarkan gubernur sampai akhir jabatannya. Sehingga ada kesan bahwa saya demikian dekat dengan Raja Inal. Tapi, begitu almarhum HT Rizal Nurdin dilantik, saya beralih kepadanya.

Banyak surat kaleng yang sampai pada almarhum Rizal Nurdin, tapi karena tidak dilihat ada tanda-tanda ke arah apa yang diisukan, saya tetap dipakai.

eddys

(Eddy Sofyan mengaku, dirinya bukanlah tipe orang yang cepat melupakan siapapun, apalagi atasannya. Ketika Raja Inal tidak gubernur, Eddy terus membangun hubungan. “Saya anggap pejabat-pejabat yang telah habis masa kerjanya sebagai orangtua saya. Saya terus bersilaturahmi dan meminta masukan-masukan. Demikian juga sebaliknya,” katanya. Sejauh dirinya masih bekerja sesuai dengan ketentuan, Sofyan tidak pernah memikirkan apa pun kata orang tentang dirinya. “Mau dikatakan penjilat atau muka tembok, saya tidak perduli. Yang penting, saya harus tetap loyal pada pimpinan,” katanya.)

Bagaimana Anda memenej pandangan hidup tersebut?

Harus kita tanamkan dengan penuh keikhlasan. Keikhlasan kita bekerja, keikhlasan kita untuk tetap loyal kepada atasan.

Ada tantangan dalam menjalankan pandangan hidup Anda?

Oh ya, banyak tantangan yang harus saya hadapi. Ketika almarhum Rizal Nurdin harus kedua kalinya menduduki jabatan Gubernur. Saya harus membangun public opinion positip terhadap program-program dan kegiatannya ketika menjadi gubernur. Itu yang saya lakukan, dan ternyata berhasil. Banyak orang berpikir pada waktu itu, saya akan mendapatkan jabatan. Padahal, ketika apa yang saya lakukan memetik keberhasilan, saya tidak pernah memikirkan adanya pamrih, seperti dapat jabatan misalnya. Saya ikhlas melakukannya.

Tantangan lainnya?

Ketika musibah terjadi pada almarhum Rizal Nurdin, ada anggapan orang bahwa saya “menjilat” kepada Pak Rudolf Pardede. Tidak, saya tidak menjilat. Saya memang ketika itu harus menunjukkan loyalitas saya kepada Rizal Nurdin dan saat Gubernur Pak Rudolf, maka saya juga harus menunjukkan loyalitas saya. Bila perlu harus saya tingkatkan peran loyalitas saya pada Pak Rudolf.

Berkaitan dengan jabatan sekarang, apa tanggapan Anda?

Kalau hari ini, saya dipercaya Pak Rudolf, mungkin selain sudah memenuhi persyaratan-persyaratan, Pak Rudolf menilai atas loyalitas yang sudah saya tunjukkan dan dirasakan Pak Rudolf. Loyalitas itu, bukan loyalitas yang menjilat atau mangguk-mangguk kepala. Loyalitas itu, cukup ditunjukkan dalam pekerjaan saja. Bagaimana melaksanakan tugas dan fungsi kita serta totalitas, baik dalam bekerja maupun mengabdi untuk institusi dan pimpinan.

Bagaimana kiat mengembangkan kemampuan Anda tersebut?

Itu tadi. Bagaimana kita menanamkan rasa cinta kita terhadap pimpinan. Selama kita tidak bisa menanamkan rasa cinta terhadap pimpinan, maka akan sulit bagi kita untuk berkembang. Jadi harus ada kepasrahan dengan tidak memandang berapa materi yang diterima atau jabatan apa yang harus didapat. Saya tidak pernah berpikir dapat eselon II, saya hanya terpikir dapat kepala biro saja. Mungkin ini ada kaitannya dengan lucky dan kepercayaan. Jabatan itu amanah.

(“Rasul bersabda: ‘kalau kamu berkehendak, saya akan memberitakan kepadamu tentang jabatan. Apa itu? Yang pertama; ia sebagai celaan, kedua; ia sebagai penyesalan dan ketiga; ia sebagai azab di hari kiamat. Tetapi semua itu akan terhindar, apabila pemegang amanah jabatan itu berlaku adil.’ Ini kumpulan kata yang senantiasa menjadi pegangan bagi Drs Eddy Sofyan MAP, Kepala Badan Infokom Pemprovsu,” katanya.)

Bagaimana hubungan dengan bawahan?

Saya akan coba untuk bekerjasama.

Hubungan dengan wartawan?

Saya merasa sangat tidak asing dengan teman-teman wartawan. Ruangan saya ini bebas dimasukin wartawan mana saja, tidak ada jarak yang harus memisahkan saya dengan rekan wartawan. Saya yakin bahwa setiap manusia punya perasaan dan nilai-nilai kemanusiaan. Meskipun wartawan, yang katanya bisa saja mencari-cari kesalahan, kalau dia kita berikan sentuhan kemanusiaan, pasti tidak akan tega. Hubungan saya dengan wartawan berjalan dengan baik.

Boleh tahu, di antara Ayah dan Ibu, mana yang lebih dominan membangun kehidupan Anda?

Ibu saya lebih dominan. Ibu saya boru Nasution, seorang bidan. Ibu saya cukup gigih memperjuangkan marwah keluarga khususnya kesepuluh anak-anaknya. Saya sangat bangga karena kami bisa disekolahkan. Ibu saya selalu mengatakan, agar anak-anaknya rajin belajar dan pandai-pandai membawa diri.

(Ketika SMA di Tebingtinggi, Eddy Sofyan menjadi Ketua OSIS yang sangat dekat dengan Walikota Drs Amiruddin. Kedekatan itulah yang ia pergunakan sebagai jalan untuk memasukkan dua kakaknya menjadi PNS. “Sungguh kebanggaan besar bagi saya, sebagai anak kelima, saya bisa membantu saudara-saudara saya untuk bisa masuk sebagai PNS. Kami semuanya mendapatkan kerjaan yang cukup membanggakan,” kata Eddy. Semuanya itu, menurutnya sebagai buah dari ketulus-ikhlasannya dalam mengemban tugas yang dibeban selama di biro kehumasan.)

Bagaimana hubungan dengan keluarga?

Kami selalu menanamkan apa itu yang disebut “marholong” (mengasihi). Prinsip ini tidak hanya diterapkan di tengah keluarga, kepada siapapun hal ini kami terapkan.

Bagaimana Anda menyalurkan informasi kepada pimpinan?

Selama saya sebagai humas, saya selalu berpegangan pada prinsip, biar sejelek atau sepahit apapun informasi yang saya dapat, akan saya sampaikan kepada pimpinan. Apakah pimpinan mau menindaklanjuti atau tidak, itu urusan pimpinan. Itulah tugas humas. Saya bersyukur, sudah tiga gubernur yang saya hadapi, mudah-mudahan senantiasa diberi kepercayaan. Pak Rudolf juga menasehati agar dalam membentuk pemberitaan senantiasa menggugah dan tidak menimbulkan polemik.

Obsesi yang ingin dicapai?

Dengan tidak ada rasa ambisius, saya sebenarnya ingin menjadi kepala daerah. Saya ingin berdialog dan dekat dengan masyarakat. Keinginan ini sudah dua kali saya sampaikan, yakni saat saya berada di Mekkah. Ya Allah, saya kepingin sekali menjadi kepala daerah. Kalau itu adalah yang terbaik, arahkanlah saya ke sana. Tapi, kalau pun tidak, berikanlah jabatan yang baik menurutMu.

(Eddy menjelaskan, terhadap keinginan itu pun, harus ada keikhlasan, sehingga ketika tidak terkabulkan, tidak menjadi beban, apalagi sampai stres dan stroke. Jangan ambisius, karena ambisius akan berakibat fatal jika tak terpenuhi. Karena jalan hidup ini kita tidak tahu, pasrahkan saja, bukankah hanya Allah yang maha mengetahui.

Sejak masuk jadi PNS, dia tetap bertahan di Biro Kehumasan. Mulai Kepala Biro Humas almarhum Drs Abadi Barus, Drs Abu Hanifah, Drs Untung Margono, Drs Sofyan Nasution, Drs Hakimil Nasution, Drs Amri Tambunan, Drs Syakhyan Asmara dan Drs RE Nainggolan. Tugas pertama yang tidak bisa dilupakannya adalah saat mempersiapkan Diklat Kehumasan.)

Data Pribadi:

Nama: Drs H. Eddi Sofyan Purba MAP
Tempat/Tanggal Lahir: Tebingtinggi, 9 April 1964
Agama: Islam
Alamat: Jalan Karya E-2 Sei Agul Medan
Nama Istri: Amelida Amin SE
Anak: Dhyta Permatasari, Izha Farha Sofyan
Ayah: Samidin Purba
Ibu: Hj Nuriah Nasution
Ayah Mertua: Kolonel (Purn) H Aminsuar
Ibu Mertua: Hj Dahniar (almarhumah)
Buku yang diterbitkan: Peta Konflik di Sumatera Utara, Multikulturalisme Sumatera Utara, Anakku Tempat Segala Kasih Berlabuh, dan Ibuku Samudera Kasih Sayang

3 Tanggapan to “Drs Eddy Sofyan MAP: “Kerjalah dengan Keikhlasan Hati””

  1. Allah akan memberkahi orang yang hidupnya ikhlas dunia akhirat, selamat berjihad pak Sofyan.

  2. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Selamat untuk bang Edy yang lama tidak berkomunikasi dan bermuwajaha, sekali terlihat dah seperti ini, alhamdulillah, semoga apa yang di inginkan dapat tercapai, salam untuk inang tua dan pak tua di tebing, dari iol jakarta yang iseng nyasar hingga sampai di sini.

    salam

  3. Ass.Wr.Wb mahaguru, tanpa bermaksud mengumbang. Bagi saya, sosok Bang Eddy merupakan figur yang amanah, komunikatif dan adaptif. Siapapun orang nomor satu di Pemprovsu, pasti akan butuh tenaga dan sumbangsih pemikirannya, karena Bang Eddy merupakan sosok yang all-round, cerdas dan tidak pernah kehabisan ide-ide cemerlang/ kreatif. Good luck, semoga selamat menuju keluarga sakinah dan sukses dalam meniti karier yang lebih baik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: