beritamedan’s Weblog
terdepan untuk kebenaran

Rajamin Sirait, Berusaha Menjadi Diri Sendiri

catatan
ingot simangunsong

rajamin sirait

“Bicara masalah filosofi, sangat kompleks dan sangat luas. Namun sebagai manusia, kita harus memilikinya. Hidup memang harus punya tujuan dan cara untuk mencapainya.” Itu kalimat yang disampaikan Rajamin Sirait, Ketua Pemuda Mitra Kamtibmas (PMK) Sumut, Ketua Harian FORKI Sumut, Wakil Sekretaris DPP Organda dan Wakil Sekretaris DPD Partai Demokrat Sumut.

Rajamin menyadari bahwa setiap manusia itu, sudah diberikan Tuhan talenta dan kemampuan. Rajamin juga tidak bisa memungkiri, bahwa di kehidupan sekuler, kita butuh kehidupan yang layak dan adanya peningkatan. Kalau di dunia rohani, lebih menjurus bagaimana kita lebih mengenal Tuhan. Bagaimana kita bisa dekat dengan Tuhan. “Kunci semua itu, adalah bagaimana kita berusaha menjadi diri sendiri,” katanya.

Kita sering meniru teladan orang lain. Namun, ada yang perlu diingat, kita jangan pernah harus menjadi diri orang lain. Artinya, kita harus punya kepribadian dan kemampuan untuk menjadi diri sendiri. Tuhan menciptakan kita dengan memiliki kemampuan. Jadi, apa yang ada pada diri kita sekarang ini, kita gali, kita manfaatkan, kita rawat dan kita besarkan.Ini yang banyak dilupakan.

Rajamin mengaku, baru akhir-akhir ini ia menyadari hal tersebut. Kita hidup dengan waktu terbatas. Kesempatan tidak mungkin diulang dua kali. Kesempatan, peluang dan beratnya kompetisi, menuntut kita harus mendalami potensi apa sebenarnya yang ada pada diri kita. Misalnya, kalau kita punya kemampuan leadership, itu perlu kita tingkatkan. Tuhan menciptakan kita berdampak, berguna bagi orang lain.

Jadi, kita harus mengarah pada spesialisasi, jangan lagi semua kita kerjakan. Bisa saja kita kerjasakan semua, tapi bisa maksimalkah apa yang kita kerjakan. “Kita punya karakter, kultur dan pribadi sendiri. Yang menyiapkan itu semua, ya Tuhan. Jadi, password hidup kita ada pada Tuhan,” katanya.

rajamin sirait-1

Lantas bagaimana anda menyikapi hidup ini?

Hidup saja dalam kesederhanaan, tidak usah muluk-muluk. Lebih baik kita melakukan sesuatu dengan gambaran keterbatasan, karena kita semua memiliki keterbatasan.
Kegagalan bukan berarti berhenti. Kegagalan itu harus menjadi pemicu bagi kita untuk lebih meningkatkan upaya untuk mencapai keberhasilan. Kita harus belajar dari kegagalan.Tidak ada orang yang berhasil terus menerus. Kegagalan itu harus dijadikan sebagai guru yang baik.

Anda pernah merasa gagal?

Sering. Kita punya cita-cita tapi tidak tercapai, itu pernah saya alami. Tidak ada manusia di dunia ini, yang tidak punya masalah. Tapi, yang lebih penting adalah bagaimana manusia itu dapat menyelesaikan masalahnya.

Bagaimana anda mengatasinya?

Saya bertanya pada diri saya, apakah semua yang ingin saya capai sudah sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita kan diciptakan Tuhan dengan rencana tersendiri buat kita. Makanya kita perlu kehidupan seimbang antara kehidupan sekuler dengan kehidupan jasmani dan rohani. Bagaimana kita bisa mengetahui dan menjalankan kehendak Tuhan. Filosofi hidup kita ini kan sederhana saja, kita belajar dari lingkungan dan kultur di mana kita berada. Keberhasilan orang-orang hebat itu, karena dia mampu memanfaatkan keadaan atau momentum. Kita sering kehilangan momentum.

Maksudnya?

Pada saat lagi hangat-hangatnya sesuatu, kita tidak peduli. Pada saat sudah dingin, baru kita ikut. Jadi, kita lebih sering ketinggalan. Nah, momentum yang sedang hangat di Indonesia ini adalah perbaikan, rehabilitasi atau pemulihan. Nah, sekarang bagaimana kita dapat terlibat dalam pemulihan ini. Ya, kita harus sama-sama, jangan lagi saling menghujat dan saling menghakimi.

Bagaimana kiat anda mengasah kemampuan untuk dapat memanfaatkan momentum?

Kita harus banyak belajar. Harus melihat pada pengalaman-pengalaman dan yang paling utama bagaimana kita mempertajam kepekaan kita.

(Rajamin memberi gambaran, bahwa kesalahan terbesar dari bangsa ini, adalah ketidakmampuan untuk merawat apa yang telah diberikan Tuhan.)

Bisa dijelaskan lebih detil maksud ketidakmampuan merawat pemberian Tuhan itu?

Negara yang paling komplit sumber daya alamnya, saya pikir ya negara kita. Semua sumber daya alam ada di Indonesia. Tapi semua itu kita sia-sia kan.Hutan kita habisi. Laut, isinya diambili orang. Semua diambil orang. Kitalah negara kaya, tapi miskin.

Kenapa demikian?

Kita tidak dapat memanfaatkan momentum. Kita sekarang, meributi kerusakan alam, padahal kita yang tidak mampu bagaimana bisa memanfaatkan alam tersebut. Indonesia itu tidak pernah kekurangan air, tapi sekarang kita sudah krisis air. Kenapa, karena kita telah merusak habitat dan ekosistem. Kita terlalu sering menyia-nyiakan momentum. Ketika hutan kita masih bagus, kita tidak pernah memikirkan adanya industri kehutanan yang profesional. Kita tahunya mengambili saja, kemudian mengekspor dan tidak pernah merawatnya. Ada dana reboisasi, mana hutan yang direboisasi. Kalau 30 tahun dulu direboisasi, sudah tumbuh hutan pengganti. Dana itu ternyata dikorupsi.

Dimana letak kesalahan sehingga anak-anak bangsa ini tidak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan momentum?

Pertama, kita sudah kehilangan rasa nasionalisme. Kedua, kita ini mau hidup gampang. Semuanya serba mudah. Semuanya mau serba cepat. Kita mau hidup kaya, tapi tidak mau kerja keras. Dapat makan tanpa usaha. Etos kerja mana ada di negeri ini. Kita ini terlalu banyak libur. Di saat krisis ekonomi pun, kita masih banyak libur.

Lantas?

Kembali pada diri kita, mau dibawa ke mana bangsa ini. Kita tidak perlu belajar banyak tentang filosofi, mari kita belajar dari lingkungan kita. Mari kita introspeksi diri, apakah sudah benar yang kita lakukan. Kita jangan pernah berdalih atas kesalahan yang telah kita lakukan. Sekarang ini, kemampuan dan kepintaran yang tinggi perlu didampingi spritual yang tinggi pula. Semakin tinggi ilmu seseorang, jika tidak dibarengi spritual, akan dapat melahirkan kehancuran.

Bagaimana anda menyiasati jika muncul masalah dalam menyeimbangkan keduniawian dan spritual?

Saya kembali kepada siapa yang menciptakan saya. Yang menguasai saya ini kan Sang Pencipta. Kepadanya saya mengadu dan berharap akan dibukakan jalan untuk menyelesaikan setiap masalah yang datang. Itu tadi, EQ dan SQ harus disejajarkan. Orang bisa saja memiliki emosional yang baik, tapi tidak bisa mengambil momentum.Itu karena tidak didukung SQ (spritual quotient) yang baik. Banyak pejabat yang memiliki EQ yang baik, tapi lambat, penakut dan tidak percaya akan kekuatan Tuhan.

Ada pejabat seperti itu?

Banyak. Sekarang ini kan, banyak pejabat yang memposisikan dirinya sebagai safety player. Yang penting aman sampai pensiun.

Sekarang ini generasi muda kita banyak yang memberikan perhatian pada SQ, menurut anda?

Pasti itu. Banyak orang yang sudah meraih gelar S2, S3 atau S4, bisa tidak mereka menjamin masa depan bangsa ini. Tentu saja tidak. Yang bisa memberikan jaminan itu hanya Tuhan. Yang bisa menjanjikan itu, hanya Tuhan. Hanya yang menciptakan kita-lah, yang mengetahui tujuan hidup kita. Untuk dapat memahami SQ, kita tidak perlu jauh-jauh belajar. Kita punya kepercayaan masing-masing dan itu bisa dikembangkan pada diri kita sendiri. Orang yang dekat dengan Tuhan, akan memiliki daya tahan yang kuat .

Jadi, kuncinya pada penggalian potensi diri sendiri?

Ya. Makanya, kita perlu menyadari apa kelebihan dan kekurangan kita. Yang terjadi, kita kan sering menyombongkan kelebihan diri kita dan selalu menutup-nutupi kekurangan kita.

(Rajamin bercerita tentang pengalamannya berkaitan dengan rasa kasih. Ia katakan, banyak orang yang menjadi dermawan selalu memberi tapi belum tentu mengasihi. Dermawan itu bisa saja mau cari nama, cari aman dan untuk menutupi masalah.)

Jadi, bagaimana posisi sebenarnya?

Memberi belum tentu mengasihi.Tapi, mengasihi sudah pasti memberi. Orang yang mengasihi pasti memberi. Apakah itu dalam bentuk perhatian, dukungan, waktu maupun bantuan. Jadi, hidup ini harus ikhlas. Apa pun yang akan dilakukan, perbuatlah dari hati yang tulus ikhlas. Banyak orang yang tidak ikhlas ketika mengulurkan bantuan.

Di negara kita ini, bukan kekurangan orang pintar, kita hanya kurang memiliki orang-orang yang ikhlas dan rendah hati. Semua mengandalkan keakuannya, bukan karena Tuhan.

Bagaimana peranan orangtua?

Cukup besar. Pondasi hidup memang sangat kita butuhkan sebagai daya tahan. Saya bersyukur orangtua saya telah menyiapkannya. Tapi, sekuat apapun pondasi yang disiapkan, jika kita sendiri tidak ingin melakukan perubahan-perubahan, maka akan sia-sialah hidup kita.

Satu Tanggapan to “Rajamin Sirait, Berusaha Menjadi Diri Sendiri”

  1. syalom, saya sangat diberkati dengan kometar pak rajamin, kini saya sudah belajar dan berusaha untuk percaya kepada kemampuan yang diberikan Tuhan kepada saya, selama ini saya selalu merasa kurangf PD tetaoi setrelah saya baca komebtar ini saya bangkit dan besemangat lagi.Bravo,…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: