beritamedan’s Weblog
terdepan untuk kebenaran

H Syamsul Arifin SE: Jujur dan Ikhlas Terhadap Diri Sendiri

catatan
ingot simangunsong

syamsul

Sebagai seorang muslim, Bupati Langkat H Syamsul Arifin SE memiliki filosofi Wal-ashri (demi masa—demi waktu). Demi waktu itulah yang membuat orang beruntung atau merugi. Dia mengungkapkan, bahwa semua manusia punya keyakinan dan panutan dalam perjalanan hidupnya, yaitu (pertama) agama, (kedua) adat dan (ketiga) kaidah-kaidah yang berlaku pada bangsa dan negara ini.

“Ketiga hal inilah yang senantiasa aku pedomani. Sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang bermanfaat kepada orang lain. Maka aku bertekad, bahwa aku harus bermanfaat untuk diriku, keluargaku, masyarakat, agama, bangsa dan negara,” katanya.

Sejak kapan hal ini tertanam dalam diri Anda?

Dari kecil.

Apakah ada yang menuntun Anda?

Tidak. Sikap ini datang dan tumbuh berkembang sendiri dalam diri saya. Aku senang mempelajari sesuatu yang dalam bahasa Melayu dikatakan “Hukum bersendi sarak. Sarak bersendi kitabullah.”

Aku selalu berpikir, bagaimana caranya bisa bermanfaat. Aku suka ‘mencampuri’ hal-hal orang lain. Kalau ada orang dalam kesulitan, aku kepengen masuk dalam kesulitan itu dan kepengen coba berbuat. Makanya aku sering terjebak dan terseret dalam kesulitan orang lain. Hal itu terus kulakoni hingga saat ini.

(Orangtuanya selalu mengatakan, kalau ingin sukses, harus peduli terhadap diri sendiri, keluarga, lingkungan, negara maupun bangsa. Itu yang selalu diingatnya.)

Anda sudah sejak kecil memiliki filosofi, bagaimana Anda menjaganya bisa tetap lestari dalam perjalanan hidup Anda?

Iqra’ (membaca). Aku paling suka membaca alam ini. Maka ada istilah dalam diriku, “bacalah secara tersurat, tersirat dan tersuruk.”

(Ia kemudian menjabarkan hal ini dengan membaca isi sebuah undangan yang sedang dipegangnya. “Ini undangan. Yang tersurat menghadiri rapat di DPR, yang tersirat membahas rencana APBD dan yang tersuruk apa di dalam APBD ini. Dalam hati kita berkata, di sini akan dibicarakan kepentingan orang banyak. Sanggupkah kita dan sampai batasan bagaimanakah kita mampu menyelesaikannya. Apa yang harus kita lakukan dalam ketidakmampuan kita itu, tentu harus kita lakukan dengan kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Bagaimana kita mau ada persatuan dan kesatuan, kalau kita berpikir sendiri, menanya sendiri, menjawab sendiri, bertindak sendiri dan akhirnya kita selalu salah sendiri. Mudah-mudahan kita pun akan menyesal sendiri.”

Kemudian ia mengutip perkataan Alexander The Great: kalau aku mati, jangan lipatkan tanganku. Biarkan tanganku terlintang di kerajaanku ini. Karena ketika aku lahir, kugenggam tanganku dan semuanya ingin kucapai. Tapi pada saat aku mati, apapun aku tidak mau tentang dunia ini. “Hal ini aku pedomani dan pelajari juga,” katanya.)

Apa yang Anda rasakan dengan semua yang Anda dapatkan melalui filosofi tersebut?

Aku melihat, bahwa mengenal Allah sama dengan kenalilah diri sendiri. Dalam ajaran Islam yang sufi dikatakan, matikan dirimu sebelum kau mati. Bukan artinya kita bunuh diri, tapi napsu itu yang dimaksud agar kita kendalikan. Dalam Alkitab dikatakan, jadilah kau seperti Daniel. Saat ia dimasukkan ke kandang Singa, ia mampu menaklukkan Singa tersebut. Yang dimaksud di sini, bahwa Daniel itu adalah iman dan napsu adalah Singa.

Menjalani filosofi ini, tentu Anda banyak mendapatkan tantangan.

Oh ya. Banyak tantangan yang harus aku hadapi. Banyak orang yang awalnya tidak menyukaiku, tapi akhirnya menyenangiku.

Bagaimana Anda mengatasi tantangan itu?

Ikhlas. Jadi menghadapi semua ini, (pertama) jangan pernah berpikiran lain dan (kedua) kunci dalam menghadapi semua masalah, baik sebagai pemimpin, ulama, cendikiawan dan profesional, adalah jujur dan ikhlas terhadap diri sendiri.

Anda pernah merasa gamang menghadapi berbagai masalah?

Tidak. Saya tidak pernah gamang menghadapi masalah apapun.

Bagaimana dengan keluarga Anda?

Kami adalah keluarga yang tidak menyukai perseteruan. Kami adalah keluarga yang selalu menanamkan rasa cinta, kasih dan kedamaian. Dalam keluargaku, tutur dan silsilah memiliki kekuatan. Semiskin apapun saudaraku, jika ia yang dituakan, aku harus menghormatinya. Itu pesan orangtuaku kepada kami. Kemudian, kami diajari untuk menyayangi orang lain dan selalu berpikiran positif terhadap siapapun. Pendidikan ayah saya tidak tinggi, tapi dia seorang pionir yang menguasai 18 bahasa. Orangtua saya hafal seluruh isi Bible dalam Bahasa Inggris.

Saat usiaku 9 tahun, negara ini dalam keadaan susah, ada duit (uang) pun sulit belanja, apalagi tidak ada duit. Kami pun pindah ke Pangkalanbrandan. Tahun 1963, kehidupan perekonomian saat itu sangat memprihatinkan. Ayahku jatuh sakit. Saat inilah aku menghadapi awal tantangan. Aku punya adik lima, mamak, bapak, dan empat kakak angkat, jadi 11 orang yang aku tanggung karena ayahku mengalami lumpuh total selama 3 tahun. Selama tiga tahun itulah, aku berjualan kue. Setiap jam 5 pagi, bersama adikku Chairul, kami bangun untuk jualan kue sampai jam 7 pagi.

Hasil jualan itu kami pergunakan untuk membeli kebutuhan untuk makan. Cari pagi untuk makan pagi. Yang kami masak, segenggam (satu muk) beras Aceh (beras merah) dicampur ubi, pisang, jagung dan keladi. Makanan yang dicampur-campur ini, dalam bahasa Melayu, disebut Subai. Setelah masak, kami hanya boleh menikmati satu kepalan tangan saja dengan setiap orang hanya boleh mendapatkan seekor ikan asin kecil.

(Ketika mengenang masa-masa pahit tersebut, H Syamsul Arifin tidak dapat menahan tangis. Dengan sesunggukan, ia lanjutkan cerita pilu kehidupan keluarganya di masa silam.)

Kehidupan yang aku jalani sekarang ini, kulalui berulangkali dalam keadaan susah. Perutku harus dibelah karena sakit yang kuderita. Apa yang kurasa dan nikmati sekarang ini, bukan karena kekuatanku, tapi karena pertolongan teman-temanku.

Aku tidak suka dengan harta. Banyak masalah yang kuhadapi, yang mengharuskan aku untuk tunduk kepada Tuhan. Jadi, keadaanku ini bukan kubuat-buat. Aku tidak pernah mimpi punya mobil dan mendapatkan seperti apa yang ada sekarang ini. Apa yang kudapat sekarang, sejuta kali lebih besar dari apa yang aku inginkan.

Bagaimana orangtua Anda mendidik?

Ayahku sangat keras dan tegas dalam mendidik anak-anaknya. Sangat disiplin. Kalau ketahuan merokok dicambuk. Hari Minggu pembantu disuruh libur dan anak-anaknya harus membersihkan rumah sampai kamar mandi. Selesai masak baru boleh menonton.

Kelebihan orangtuaku, bagaimana pun marahnya dia kepada kami, dia akan selalu berdialog kepada anak-anaknya. Aku selalu ditekannya. Ketika ayahku mau meninggal, dia katakan kepadaku: “Kalau tidak kutekan kau, tidak akan jadi seperti sekarang ini kau anakku. Kau orang paling hebat, walau kau selalu kukecil-kecilkan di muka orang.”

Ayahku itu seorang filsuf. Aku pernah mengeluh soal adik-adikku, kenapa susah sekali mendidiknya dan kenapa harus gagal. Untuk menjawab keluhanku, ayahku menunjuk sebuah pohon kelapa (yang sampai sekarang masih dijaga untuk tetap hidup oleh H Syamsul Arifin sebagai kenangan).

Kata ayahku, kau lihat pohon kelapa itu, kau lihat satu tandan, sama tidak buahnya. Kadang ada yang busuk, dan begitu juga kehidupan satu keluarga. Itulah yang mengingatkan kau untuk senantiasa menyebutkan la hau la wala quwwata illa billah hil’alliyyul’adzim (tidak ada daya upaya (manusia) melainkan Allah yang Maha Besar). Bukan karena kau sudah berusaha dan berdoa, semua itu pasti jadi. Itulah yang membedakan kau dengan Tuhan. Kalau menurut kau jika seorang yang mengabdi itu dikatakan sudah baik, itu karena keterbatasanmu melihat. Padahal seharusnya kau waspada, belum tentu yang baik itu adalah baik, karena dalam kebaikan itu sering tersimpan kejahatan. Itulah yang aku katakan tadi, aku harus melihat sesuatu secara tersurat, tersirat dan tersuruk.

Bagaimana Anda berteman?

Teman atau sahabat itu, lebih dari pada saudara. Maka, dalam pola kerjaku, aku selalu melakukan chek, rechek dan counter rechek. Periksa, periksa lagi dan periksa ulang lagi. Kalau mau tahu bagiamana seseorang, mau nanya baiknya tanyakan orang yang dekat dengannya. Kalau mau tahu buruknya, tanyakan musuhnya dan kalau mau tahu siapa dia, cari orang yang kenal dengan dia tapi tidak punya kepentingan apapun terhadap dia. Setelah itu kita lakukan, kita tidak akan pernah menyesal jika mengambil keputusan, walau itu salah.

(Ia menggambarkan, filosofi yang paling bodoh di dunia ini, adalah filosofi binatang, dan di antara binatang yang paling bodoh adalah keledai. Keledai itu kalau jatuh satu kali di satu lobang, sampai mati tidak akan mau jatuh kedua kali di lobang yang sama. Jadi, kalau kita dua kali melakukan kesalahan yang sama, maka kita lebih bodoh dari keledai. Mau Anda dibilang lebih bodoh dari keledai, lebih ganas dari singa dan lebih ribut dari anjing. “Kenapa kucing itu dibilang kucing, anjing itu dibilang anjing. Itu ada filosofinya. Karena sifatnya-lah disebut seperti itu. Anjing itu dibilang anjing karena menggonggong saja kerjanya, kalau mengeong saja itu kucing namanya.”)

Membina keharmonisan keluarga, seperti apa Anda lakukan?

Keterbukaan. Aku mau jadi ketua KNPI, kukumpulkan keluarga, kutanya mereka apa sudah siap jika aku menduduki jabatan itu. Ketika mereka setuju, itu artinya mereka telah merelakan aku sebagai bapaknya pemuda di Sumut. Begitu juga ketika aku mencalonkan diri sebagai Bupati Langkat. Aku kumpulan tokoh-tokoh dan keluarga, kutanyakan apakah benar mereka ikhlas aku menjadi bupati. Kenapa kulakukan demikian, biar mereka tahu bagaimana aku bekerja.

Untuk persiapan Cagubsu tahun 2008, Anda akan ngumpul keluarga lagi?

(Ia tidak menjawab, dan hanya tertawa keras…)

Apa yang selalu Anda tanamankan kepada staf Anda di Pemkab Langkat?

Aku selalu katakan, untuk sukses dalam hidup ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu punya pola hidup, sistem hidup dan skedul hidup.

Belum Ada Tanggapan to “H Syamsul Arifin SE: Jujur dan Ikhlas Terhadap Diri Sendiri”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: