beritamedan’s Weblog
terdepan untuk kebenaran

Astana Giri Bangun

catatan
ingot simangunsong|berbagai sumber

astana1

Astana Giri Bangun adalah sebuah pemakaman yang terletak di sebelah timur kota Surakarta, tepatnya di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, sekitar 35 km dari Surakarta.

Astana Giri Bangun dibangun pada tahun 1974 oleh Yayasan Keluarga Mangadeg Surakarta. Lokasinya berada di atas Bukit Giribangun atau Bukit Mangadeg. Di puncak bukit ini terdapat makam raja-raja Mangkunegaran, Surakarta: termasuk makam Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa, Mangkunegara II, III, dan VIII. Komplek makam ini memiliki tiga tingkatan cungkup (bangunan makam): cungkup Argo Sari teletak di tengah-tengah dan paling tinggi, di bawahnya, terdapat cungkup Argo Kembang, dan paling bawah adalah cungkup Argo Tuwuh.

Di tempat ini telah dimakamkan mantan presiden Suharto pada tanggal 28 Januari 2008 berdampingan dengan makam istrinya, Ibu Tien, yang telah dimakamkan pada tahun 1996. Selain itu, dalam kompleks makam ini juga telah dimakamkan ayah dan ibu dari bu Tien, KRMTH Soemoharjomo, dan kakak perempuan bu Tien, RA Siti Hartini Odang (Republika Online, 30 April 1996).

Situs pemakaman ini dirancang untuk dipakai oleh seluruh keluarga Pak Harto. Pada saat pembangunannya dimulai, jauh sebelum Ibu Tien Suharto wafat, telah menuai badai kritik dari berbagai kalangan masyarakat. sehingga diisyukan bahwa liang-liang lahat yang dipersiapkan untuk peristirahatan terakhir itu dilapisi dengan emas maupun perak. pada hal pada saat yang sama (saat itu) keadaan ekonomi rakyat sedang tidak membaik.

Ny Tien dikenal sebagai kerabat Mangkunegaran, khususnya trah Mangkunegaran III. Karena itu, tak heran jika pemilihan lokasi Astana Giribangun, tahun 1970-an silam, sengaja didekatkan dengan Astana Mangadeg. Tentang pemilihan lokasi Astana Giribangun yang lebih rendah, diperkirakan untuk menghormati keberadaan Astana Mangadeg yang secara spiritual dianggap lebih tinggi.

Astana Giribangun mulai dibangun pada 1974. Dua tahun kemudian, 1976, kompleks pemakaman keluarga Soeharto ini diresmikan, dengan mempekerjakan 21 karyawan dari Yayasan Mangadeg. Mereka dipimpin Haryo (KRMH) Sriyanto Soemanto Kusumo, Manajer Astana Giribangun yang juga Kepala Rumah tangga nDalem Kalitan, kediaman keluarga Soeharto di Solo.

Sehari-hari, Sriyanto berada di nDalem Kalitan. Sedangkan keberadan Astana Giribangun diserahkan kepada Kepala Pelaksana Harian Sukirno, yang kadang-kadang disebut sebagai juru kunci.

astana2

Peresmian pada 1976 itu ditandai dengan pemindahan abu jenazah ayahanda dan kakak tertua Ny Tien, yaitu Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Soemoharjomo, dan Siti Hartini Oedang. Sebelumnya, mereka dimakamkan di Makam Utoroloyo, kompleks makam keluarga besar keturunan Mangkunegaran di Kota Solo.

Kini dua jenazah tersebut dimakamkan di bagian utama Astana Giribangun, yaitu Cungkup Argosari. Bagian ini terletak di dalam ruangan tengah seluas 81 meter persegi dengan cungkup berupa rumah bentuk joglo gaya Solo beratap sirap dan berdinding kayu ukir gaya Solo.

Selain jenazah alm KPH Soemoharjomo dan Siti Hartini Oedang, dalam Cungkup Argosari dimakamkan pula jenazah Ny Tien serta ibundanya, Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Hatmanti Soemoharjomo, yang meninggal 30 Juli 1988 dalam usia 88 tahun.

Bagian dalam Cungkup Argosari hanya akan dipakai untuk pemakaman lima jenazah. Hal ini dapat dilihat dari satu-satunya `kapling’ kosong di cungkup tersebut, yaitu di sebelah pusara Ny Tien. `Kapling’ ini dipersiapkan untuk Pak Harto.

Khusus dalam cungkup ini memang hanya untuk lima pusara. Makam untuk yang lain-lainnya di luar Cungkup Argosari, yaitu di emperan Cungkup Argosari seluas 243 meter persegi. Di sini terdapat 12 pamijen alias 12 kapling makam. Jika menilik bahwa pasangan Soeharto-Ny Tien dikaruniai enam anak, diperkirakan 12 calon makam itu disediakan untuk enam putera-puteri mereka bersama enam menantu.

***

Selain pamijen itu, masih ada pula pamijen lain di selasar cungkup. Dengan luas 405 meter persegi, pamijen ini disediakan bagi 48 jenazah mereka yang selama ini aktif dalam Yayasan Mangadeg, mulai dari penasihat, pengurus harian, hingga anggota pengurus yayasan.

astana3

Adapun bagian di luar lokasi utama adalah lokasi seluas 567 meter persegi yang dinamakan Cungkup Argokembang. Di cungkup ini ada 116 lobang makam yang disediakan bagi para pengurus pleno dan seksi Yayasan Mangadeg serta keluarga besar Mangkunegaran. Khusus untuk keluarga besar Mangkunegaran, agar dapat dimakamkan di sini mereka harus dianggap berjasa kepada yayasan, dan mengajukan permohonan untuk dimakamkan.

Masih ada lagi satu cungkup di Astana Giribangun, yang merupakan cungkup terluar, yaitu Cungkup Argotuwuh. Di lokasi seluas 729 meter persegi ini terdapat 156 lobang makam, juga untuk para pengurus Yayasan Mangadeg maupun keluarga besar Mangkunegaran yang mengajukan permohonan untuk dikebumikan di sana.
Di samping bangunan untuk pemakaman, terdapat pula sembilan bangunan pendukung lainnya. Di antaranya adalah masjid, rumah tempat peristirahatan bagi keluarga Soeharto jika berziarah, kamar mandi bagi peziarah utama, tandon air, gapura utama, dua tempat tunggu atau tempat istirahat bagi para wisatawan, rumah jaga dan tempat parkir khusus bagi mobil keluarga. Di bagian bawah, terdapat ruang parkir yang sangat luas.

Pintu utama Astana Giribangun berada di sisi utara. Sementara sisi selatan berbatasan langsung dengan jurang yang di bawahnya mengalir Kali Samin. Sungai yang berhulu dari Tawangmangu itu berkelok-kelok dan indah dipandang dari kompleks makam.

Belum Ada Tanggapan to “Astana Giri Bangun”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: