beritamedan’s Weblog
terdepan untuk kebenaran

Mak Susi: “Dari Pada Jadi Pencuri, Lebih Baik Memulung”

catatan
tonggo simangunsong

mak susi1

Sebagian besar para pemulung di TPA Pancurbatu ini mengaku, faktor ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan adalah penyebab mereka bekerja menjadi pemulung. Bahkan, banyak diantaranya yang membawa keluarganya di tempat ini untuk bekerja bersama-sama, salah satunya adalah keluarga Mak susi.

Ibu lima orang anak berusia 48 tahun ini adalah salah satu pionir ribuan pemulung yang menggantungkan nasibnya mencari rezeki dari sampah-sampah. Sejak TPA pertama kali dibuka oleh pemerintah pada sekitar tahun 1987, ia sudah bekerja di sini.

“Pertama kali saya cari sisa-sisa sampah di sini, saya dibilang sama orang-orang di sini kalau saya orang tak waras karena jadi pemulung. Prinsip saya adalah asalkan yang saya cari itu halal, saya akan melakukannya. Di sini saya kan tidak mencuri, apalagi korupsi. Jadi, apa yang dikatakan oleh orang-orang itu saya anggap seperti angin lalu saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Ternyata jejak Mak Susi diikuti penduduk di lingkungan sekitarnya. Termasuk juga dengan orang-orang yang pernah mengejeknya. Menurut Mak Susi, pertama kali TPA ini di buka hanya ada sekitar puluhan orang saja yang menjadi pemulung. Tapi kini, lanjutnya, pemulung sudah mencapai ribuan orang.

“Tahun-tahun pertama di sini, pemulung jumlahnya hanya sekitar puluhan saja. Kalau sekarang sudah mencapai ribuan pemulung. Bahkan, ada yang satu keluarga semuanya jadi pemulung. Termasuk saya, hampir semua anak saya kerjanya juga di sini,” sebut Mak Susi yang tinggal di Desa Baru Gang Dame Pancurbatu.

mak susi1

Tak Pernah Kena Penyakit
Selama kurang lebih 20 tahun menjadi pemulung, Mak Susi dan keluarganya mengaku tak pernah mengalami sakit. Walaupun TPA yang dijadikan tempat mencari nafkah, kondisinya sangat tidak layak karena kotor.

“Syukurlah, hingga sampai sekarang, kami sekeluarga tidak pernah terkena penyakit. Paling-paling hanya penyakit biasa, seperti demam dan flu saja. Soalnya, kalau kita lihat tempat seperti ini kan tidak layak untuk dijadikan sebagai tampat kerja,” ujar nenek lima orang cucu ini.

Mak Susi menambahkan, binatang-binatang yang dianggap orang menjijikkan dan mendatangkan penyakit, seperti ulat, cacing serta lalat justru dijadikan teman-temannya. Ia mengatakan, kalau binatang-binatang itu juga memiliki nasib yang sama dengannya, yakni menggantungkan nasib dari sampah-sampah ini.

“Udah biasalah dikerubuti binatang-binatang seperti itu. Saya percaya, kalau binatang-binatang itu tak akan pernah mengganggu kami. Soalnya kita di sini sama-sama mencari sesuatu yang sama untuk hidup. Saya mencari uang, binatang-binatang itu mencari makanan,” ucap Mak Susi.

Bekerja menjadi pemulung bukanlah pekerjaan yang mudah, bau busuk dan asap yang pengap selalu jadi teman setia para pemulung, kadang juga membawa dampak bagi kesehatan. Tak bekerja berarti hilang uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk itulah Mak Susi memiliki kiat sendiri untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit.

”Biasanya kami ke sini dari jam 9 pagi hingga 6 sore, sebelum dan sesudah bekerja saya dan keluarga selalu minum puding yang kita buat sendiri. Paling dengan tambahan telur dan obat-obatan tradisional saja yang kami minum,” seru Mak Susi.

Selain itu, kata Mak Susi, ia dan keluarganya juga membatasi waktu bekerja di TPA. Walau pada malam hari, truk-truk sampah masih banyak yang datang. Tapi Mak Susi tak mau memaksakan diri untuk terus bekerja. Kesehatan menjadi alasannya.

”Kalau menurut saya, lebih baik bekerja pada siang hari saja. Kalau malam hari itu resikonya sangat besar. Soalnya, banyak pemulung yang bekerja pada malam hari yang terkena penyakit paru-paru basah. Makanya, saya tak terlalu memaksakan untuk bekerja malam hari. Rezeki itu sudah ada yang mengatur kok,” ujarnya.

Tak hanya malam hari saja, Mak Susi meliburkan diri dari bekerja, di waktu hari hujan, Mamak Susi juga tidak terlalu memaksakan diri. Pasalnya, katanya, ancaman keselematan selalu membayangi para pemulung jika hujan datang.”Wah kalau hari sudah mau hujan, lebih baik tidak usah bekerja. Takut kalau kena petir, karena sudah banyak yang menjadi korbannya.”

aktivitas

Rezeki Tak terduga, Saat Ini Jualan Susah
Menjadi seorang pemulung juga harus memiliki insting yang kuat. Pasalnya, di antara tumpukan berton-ton sampah, kadang terdapat barang-barang yang memiliki nilai jual yang lumayan tinggi. Salah satunya adalah barang-barang antik.

“Kalau mau cari sampah di sini, kita juga harus punya naluri. Soalnya di bawah tumpukan-tumpukan sampah banyak tersimpan barang-barang yang antik dan memiliki harga jual tinggi. Selain itu, diantara pemulung di sini dulu juga pernah mendapatkan uang dolar yang kalau dirupiahkan jumlahnya ratusan juta,” terang Mak Susi.

Mak Susi pun mengaku kalau dirinya juga sering menemukan barang-barang antik yang biasanya berasal dari Cina. Seperti sabuk, guci dan barang-barang lainnya. Pertama kali menemukan, dulunya ia menganggap kalau barang-barang seperti itu tidak bisa dijual lagi. Tapi, setelah di beri tahu kalau barang tersebut bisa dijual. Satu demi satu temuan ia kumpulkan dan ia jual di daerah Sambu.

“Kalau mau menjual hasil memulung ini kan biasanya seminggu sekali, sekalian lah ngumpulkan barang-barang yang antik. Baru kemudian dijual ke tempat penjual yang mau untuk membeli. Lumayanlah harganya kalau untuk barang antik bisa mencapai ratusan ribu rupiah,” sebutnya.

Namun, saat ini dirinya mengaku sangat susah kalau mau menjual barang-barang bekas, jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Soalnya, tidak semua barang-barang yang ia dapat di TPA bisa dijual kembali.”Kalau dulu, selain plastik, kita masih bisa jual bahan-bahan dari atom, seng dan lainnya. Tapi, sekarang yang laku kebanyakan bahan-bahan yang terbuat dari plastik saja,” keluh Mak Susi yang didampingi Inur, putri kelimanya yang juga bekerja di TPA.

Belum Ada Tanggapan to “Mak Susi: “Dari Pada Jadi Pencuri, Lebih Baik Memulung””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: