beritamedan’s Weblog
terdepan untuk kebenaran

Drs Rudolf Pardede: “Semua Ini KerjaTuhan”

catatan
ingot simangunsong

rudolf

Dilahirkan 4 April 1942, Drs Rudolf Pardede, putra pasangan almarhum DR TD Pardede dan almarhumah Hermina boru Napitupulu ini, selalu tampil dengan kebersahajaannya. Tahun 2003, ia mendapat kepercayaan untuk menjabat Wakil Gubernur dan kemudian menjadi Gubernur Sumut. Ia juga merupakan Ketua DPD PDI-P Sumut. Banyak “tantangan” yang harus dihadapinya. Namun dengan senyum manis dan penuh ketenangan ia jalani semuanya. Ia dengan tegas mengatakan, garis tangannya sudah ditentukan Tuhan.

Meski hanya sebagai wakil, bukan berarti jabatan tersebut dianggapnya sebagai pelengkap. Ia menjalani tugas itu dengan ikhlas dan serius. “Saya tidak akan pernah meninggalkan satu tugas sekecil apapun bila itu sudah diamanahkan. Kalau belum selesai saya tidak akan beranjak,” katanya.

Rudolf juga mengaku, untuk menunjang keberhasilan tugasnya, di mana pun ditempatkan ia akan berusaha mencari teman baik untuk patner kerja atau teman berdiskusi.

Anak tokoh politik almarhum DR TD Pardede yang pernah masuk dalam kabinet 100 pemerintahan Soekarno ini, dikenal sangat nasionalis. Ia tidak pernah memandang status atau tampilan lahiriah seseorang. Apalagi sampai membeda-bedakan agama, suku atau lainnya. Malah, ia selalu menilai seseorang itu dari kemampuan, dan kemudian etika dalam bersosialisasi dengan masyarakat.

Tidak tanggung-tanggung, kalau kedua hal itu sudah ada pada diri seseorang itu, ditambah lagi lolyalitas tinggi, ia akan memberikan perhatian dan kesempatan sebagaimana layaknya. “Itu merupakan modal utama,” kata Rudolf yang mengaku sangat membenci pengkhianat dan orang yang tidak bertanggungjawab pada pekerjaannya.

Dalam menyikapi persoalan sepelik apapun termasuk ingin mengambil keputusan, ia tidak akan pernah terburu-buru atau panik. “Saya akan selalu mencari solusi terbaik,” kata pemilik Hotel Danau Toba International ini.

Sikap ini ia pelajari dari ibunya. Menurutnya, ibunya yang paling dominan membentuk wataknya. Namun di beberapa kasus dalam hal keseharian, seperti bersosialisasi dengan masyarakat bapaknya yang banyak berperan, terutama dalam hal melihat perbedaan.

Diakuinya, perbedaan agama dan suku tidak pernah menghalanginya untuk bersilaturrahmi dengan siapa pun. Malah ia bersyukur bisa berbuat kepada masyarakat bukan karena agama atau sukunya. “Sebab di mata Tuhan, siapa paling banyak menyebarkan kasih, ia akan mendapatkan sorga,” ungkapnya.

Apa yang mendorong Anda untuk menjadi Wakil Gubernur dan kemudian menjadi Gubernur Sumut?

Saya rasa, saya ini bukan manusia yang ambisius tapi berambisi. Apa yang saya dapat sekarang ini, bukanlah karena kemauan, perbuatan atau pekerjaan saya. Jabatan ini saya dapat dengan cuma-Cuma. Saya sendiri merasa heran dan tidak mengerti bagaimana saya bisa menjadi Wakil Gubernur dan Gubernur. Saya menyadari bahwa banyak orang yang sudah mengenal siapa dan bagaimana kemampuan saya sebenarnya. Namun, saya mensyukuri apa yang telah saya capai saat ini. Walau sehari menjadi gubernur, yang penting Rudolf Pardede sudah masuk dalam sejarah pernah menjadi gubernur.

Jadi saya tidak ambisius. Tuhan juga mengatakan, kalau ada kesempatan maka kita harus memanfaatkan kesempatan itu. Tapi, jangan mengambilnya dengan ambisius tapi dengan ambisi.

Kemudian, saya melihat adanya kesempatan karena pada waktu itu PDI-P menjadi pemenang di daerah ini, jadi saya berkeinginan untuk dapat berbuat sesuatu untuk masyarakat Sumut. Terutama agar ada perimbangan di antara masyarakat Sumut, antar umat beragama dan yang lainnya.

Apa yang sudah Anda capai dari keinginan tersebut?

Ya pertama, saya bisa menjalankan roda pemerintahan ini dan dapat menunjukkan adanya kerukunan umat beragama yang demikian kondusif, terkendali dan adanya rasa toleransi yang tinggi di antara umat beragama maupun suku yang ada di daerah ini.

Dalam perjalanan sebagai Wakil Gubernur maupun Gubernur ada berbagai masalah yang Anda hadapi, namun Anda kelihatan tenang sekali menghadapinya. Apa rahasia dari semua ini?

Yang penting kita itu, will. Kalau kita merasa will, maka kita perlu merasa ragu-ragu dan tidak usah takut dalam menghadapi masalah apa pun. Ketika saya menjadi wakil gubernur, saya tetap menjalin hubungan baik dengan gubernur. Saya berprinsip right or wrong you are my gubernur. Karena sejak dari awal saya sudah memilihnya sebagai gubernur. Walau pun tugas saya hanya menggunting pita, saya terima dengan senang hati karena itulah tugas wakil gubernur. Kalau pun ketika itu tidak ada orang yang mau mendekat dengan saya, saya bisa menerimanya, karena itu hal yang logis. Jadi, kita harus mengerti dan memahami posisi kita masing-masing. Kalau kita bisa memahami posisi dan fungsi masing-masing, hal itu akan mendorong terciptanya pemerintahan yang baik.

Kita bercerita sedikit tentang “Pak Ketua” Dr TD Pardede. Apa kesan menarik dari perjalanan hidup almarhum yang mendominasi perjalanan hidup Anda?

Saya sangat bangga sekali dengan orangtua saya, karena beliau adalah seorang enterpreneur. Beliau telah banyak berbuat sesuatu di Sumatera Utara ini walau mungkin dia bisa melakukannya di tempat lain. Pertama, dia bangun hotel bertaraf internasional dan sampai orang sempat menertawakannya kenapa harus membangun hotel demikian besar. Dia juga yang mendirikan persepakbolaan profesional pertama di Indonesia, pabrik tekstil pertama, rumahsakit dan juga universitas.

Keinginan beliau adalah bagaimana meningkatkan SDM Sumatera Utara agar bisa maju ke depan dibanding daerah lainnya. Beliau sangat konsern dalam membangun Sumatera Utara.

Sejak dulu saya memang terobsesi mewujudkan impian beliau melalui kemampuan yang ada pada diri saya. Pertama, saya telah wujudkan keinginannya untuk menjadi gubernur. Kedua, saya sudah terbitkan sebuah suratkabar Harian Perjuangan dan ketiga, membangun usaha tambak udang.

Untuk mengenang beliau, apa yang Anda lakukan?

Saya telah membangun apa yang saya sebut “tugu yang hidup” dan menginginkan “tugu yang mati” untuk kedua orangtua saya. Artinya, “tugu yang hidup” itu, saya bangun Yayasan TD Pardede yang mengelola sebuah universitas. Di Jakarta juga saya bangun gedung pertemuan Hermina Hall untuk mengenang ibu saya.

Apa wejangan yang selalu ditanamkan TD Pardede kepada Anda yang demikian berperan memotivasi perjalanan hidup Anda?

Dia selalu menanamkan kepada saya, kalau kita pergi ke mana saja, selalulah meninggalkan yang baik-baik dan wangi. Kalau kita tinggalkan yang wangi-wangi, orang akan banyak yang menyenangi kita. Jangan pernah meninggalkan yang tidak baik dan tidak wangi. Wejangan inilah yang selalu saya ingat dan saya pun mendapatkan hikmah di mana teman saya demikian banyak yang mengasih dan menolong saya. Jangan pernah memikirkan sebuah pertemanan diukur dengan uang. Saya tidak pernah merasa ragu untuk membuat orang merasa senang. Saya tidak pernah merasa ragu untuk membuat orang lain untuk bisa tertawa.

Orangtua saya tidak pernah mendekatkan diri dengan pejabat yang dia lihat sudah menyenangkan hidupnya. Orangtua saya justru lebih mendekatkan diri dengan pejabat-pejabat yang kelihatan susah hidupnya. Itu falsafah orangtua saya, yang saya lihat. Orangtua saya, sangat menghargai pejabat-pejabat yang sudah tidak menduduki posisi tertinggi lagi.

Anda selalu mengatakan agar semua pihak untuk tidak under-estemated dalam menilai diri Anda. Bisa dijelaskan maksudnya?

Yang saya maksud, ketika seseorang itu diberikan kepercayaan untuk menduduki sebuah jabatan, kita jangan berpikiran bahwa orang itu tidak mampu untuk melaksanakannya. Contohnya seperti saya, ketika saya menduduki jabatan wakil gubernur dan kemudian menjadi gubernur, banyak orang yang berpikir bahwa saya tidak memiliki kemampuan untuk jabatan ini.

Saya merasa bahwa setiap orang yang menduduki jabatan apa pun, awalnya tidak pernah menduduki jabatan itu. Jadi, ketika saya menduduki jabatan ini, saya berdoa kepada Tuhan agar diberikan kemampuan untuk dapat menjadi pemimpin yang arif dan bijaksana. Saya juga selalu meminta agar tidak dipermalukan. Saya yakin doa-doa inilah yang memberikan kekuatan bagi saya dalam menjalankan roda pemerintahan.

Saya yakin bahwa dalam ketidakmampuan saya, Tuhan membuka jalan bagi saya untuk menyelesaikan setiap masalah. Saya yakin bahwa semua ini adalah kerja Tuhan bukan kerja saya. Sebagai manusia biasa, saya tidak bisa berbuat apapun tanpa mengandalkan Tuhan. Saya tidak pernah merasa takut menghadapi apa pun karena Tuhan sudah menentukan garis tangan saya.

Satu Tanggapan to “Drs Rudolf Pardede: “Semua Ini KerjaTuhan””

  1. hallo….. pa kbr?
    wah… bagus2 tuh ulasannya…
    selamat ya, tuk penulisnya….
    ada anak Lab.Batu ngak?
    lam kenal…..
    http://labuhanbatunews.wordpress.com

    makasih telah ngunjungi saya. kabar saya baik dan sehat. saya lahir di medan.kenal kembali ya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: