Protes Anti-Prancis di China Tengah dan Beijing
Ratusan warga China melakukan protes, Sabtu (19/4) di Kota Wuhan dan di Beijing terhadap sikap Prancis menyangkut Tibet dan Olimpiade, kata polisi dan saksi-saksi mata.
Banyak di antara pemrotes berkumpul di depan carrefour, toko serba ada Prancis yang dituduh sejumlah warga China mendukung Tibet.
“Ada sekitar 100 atau 200 orang dekat toko serba ada itu memegang tanda-tanda, meminta massa tidak memasuki toko itu,” kata seorang yang tinggal di satu jalan dekat salah satu dari toko-toko Carrefour.
Berita-berita itu muncul saat dua protes kecil meletus di Beijing, ibukota RRC sekitar Kedubes Prancis dan Sekolah Prancis, dan juga sekitar empat toko carrefour.
“Pada saat itu situasi tenang. Ada sekitar 50 sampai 100 pemrotes di depan toko-toko itu dengan membawa spanduk, tetapi polisi ada di sana,” kata seorang karyawan Carrefour yang tidak bersedia namanya ditulis.
Sentimen anti Prancis di RRC meningkat sejak obor Olimpiade singgah di Paris, di mana para pemrotes pro Tibet berusaha merebut obor itu dari tangan Jin Jang, seorang atlit cacat.
Kemarahan terhadap Prancis semakin bertambah akibat ketidaksediaan Presiden Nicolas Sarkozy menghadiri acara pembukaan Olimpiade 8 Agustus, menyusul kerusuhan di Tibet bulan lalu dan kemudian tindakan keras RRC terhadap para pemrotes.
Aksi kekerasan di ibukota wilayah Himalaya itu, Lhasa meletus 14 Maret setelah empat hari protes damai terhadap 57 tahun kekuasaan China, dan meluas ke daerah-daerah sekitarnya yang berpenduduk etnik Tibet.
Tindakan keras Beijing terhadap para pemrotes itu mendapat kecaman dari organisasi-organisasi internasional dan sejumlah pemerintah asing.
Carrefour dituduh oleh para pengguna Internet China mendukung Tibet, satu fakta yang dibantah keras oleh jaringan toko serba ada itu.
Presiden Sarkozy sebelumnya mengaitkan kehadirannya di acara pembukaan Olimpiade itu dengan catatan hak asasi manusia China di Tibet.

Loading...