beritamedan’s Weblog
terdepan untuk kebenaran

Vegasuz Band, Lebih Bangga Mainkan Karya Sendiri

VENGOUS

catatan
tonggo simangunsong

Vegasuz, seperti band anak Medan lainnya, tak ingin ketinggalan diikutkan menjadi salah satu band yang namanya layak dipertimbangkan. Mereka juga tak ingin bermain musik hanya untuk sekadar ikut-ikutan, namun mencoba untuk berkreasi dengan memainkan karya hasil garapan sendiri. Setidaknya langkah mereka bisa menjadi motivasi untuk anak band Medan lainnya, bukan?

Vegasuz, band yang dimotori lima anak muda Medan ini: Rifi (vokal), Ari (gitar), Noto (gitar), Brata (bass) dan Buyung (drum) ini telah eksis selama dua tahunan lebih – dibentuk sejak Mei 2005.

“Sederhana, sih. Pembentukannya diawali dari pertemuan kami di kampus. Sering nongkrong di kantin. Dan akhirnya kita sepakat membentuk band,” ujar Ari, yang adalah mahasiswa FISIP USU, semester akhir itu.

Meski awalnya mereka bermain musik dan membentuk hanya didasari hobbi alias demi mengekpresikan bakatnya yang terpendam, namun belakangan mereka pun mulai terpikir untuk lebih serius. Misalnya, dengan mulai mencipta atau mengaransmen lagu sendiri.

“Kami tak ingin hanya bisa membawakan lagu milik orang. Tapi, juga ingin menunjukkan kepada orang bahwa kita ingin lebih mengutamakan karya sendiri,” ujar Rifi, sang vokalis, kepada Global seusai sesi latihan di sebuah studio musik di Jalan Jamin Ginting Medan, (20/2) kemarin.

Vegasuz memang membuktikannya. Selama eksis, setidaknya sebuah mini album telah berhasil mereka garap, dengan rela berkorban mengeluarkan biaya produksi dari kantongnya masing-masing personil. Mini album itu, “Titik Awal”, digarap bersama pada tahun lalu, berisi enam lagu dengan dua tembang hits: “Selamanya” dan “Tanpa Kata Berpisah”, yang diaransmen dengan nuansa aliran “Pop Alternatif”.

“Kita harus lebih bangga pada karya sendiri,” ujar Buyung, sang drummer berkomentar. “Ya, kalau tidak begitu, anak band Medan tak akan diakui di mana-mana,” sambung, Brata, sang basis.

Vegasuz yakin bahwa salah satu cara untuk mengangkat “martabat” musik anak Medan adalah dengan cara bermusik dengan karya sendiri. Komentar mereka, “Boleh saja bermimpi bisa menembus label major di Jakarta, tapi kalau bisa diakui dan punya fans di Medan saja, itu sudah hebat.”

“Mari dukung karya anak band Medan,” seru Buyung. Baginya, ini adalah ajakan untuk anak band Medan untuk lebih giat bermusik dengan mengutamakan karya musik lokal (Medan).

Bukan “band festival”
Mini album, seperti pengakuan para personil Vegasuz, untuk saat ini tidak untuk dijual melainkan hanya sebagai sarana promosi band kepada anak muda Medan. Mini album ini mereka sebarkan dengan cuma-cuma, semisal, ketika mereka tampil dalam berbagai even musik. Juga lewat studio-studio musik yang ada di Medan.

“Kami tidak menjualnya. Karena ini sekaligus merupakan langkah awal untuk memperkenalkan musik kami kepada orang Medan,” ujar Brata. Mini album dirilis sebanyak 300 keping.

Sementara itu, Vegasuz sendiri mengaku bahwa eksistensi band mereka sejauh ini memang hanya fokus untuk berkarya, tanpa ingin terlalu serius melibatkan diri ke dalam ajang-ajang festival musik yang ditakutkan akan mempengaruhi jadwal rutinitas mereka mencipta lagu.

“Kami bukan band festival,” ujar mereka kompak. Ini untuk menanggapi kenyataan bahwa selama ini festival musik yang sering digelar di Kota Medan lebih kerap “keliru” dalam kriteria penilian. Band yang dianggap “jago” adalah band yang bisa memainkan musik band ternama “semirip-miripnya”. Bukan malah memprioritaskan band yang kreatif dengan memainkan karya original band mereka sendiri.

“Makanya kami tidak mau terjebak ke dalam festival,” tegas mereka lagi.*

2 Responses to “Vegasuz Band, Lebih Bangga Mainkan Karya Sendiri”

  1. ass,,,

    mi prnah dner lgu vegasus,,,

    lagunya enak kok,,,
    dr prtama denger udh enk,,,,

    tp mi lp judulny,,
    coz dah lma bngt,,,,

    cayyooo y,,,

  2. ga da rncana pindah alirn???????

    da bsi cuy !


Leave a Reply